Tuesday, March 26, 2013

Nuansa Bening [Prologue]


[sumber gambar : pinjam dari Appunti]

Prolog

oh tiada yang hebat dan mempesona • ketika kau lewat di hadapanku biasa saja
waktu perkenalan terjalin sudah • ada yang menarik pancaran diri terus mengganggu
mendengar cerita sehari-hari, yang wajar tapi tetap mengasyikkan
oh tiada kejutan pesona diri • pertama kujabat jemari tanganmu biasa saja
masa perkenalan lewatlah sudah • ada yang menarik bayang-bayangmu tak mau pergi
dirimu nuansa-nuansa ilham, hamparan laut tiada bertepi
kini terasa sungguh • semakin engkau jauh, semakin terasa dekat
akan tumbuh kembangkan • kasih yang kau tanam di dalam hatiku
menatap nuansa-nuansa bening • jelasnya doa bercita


Sahabat pendengar bijak! Itu tadi sebuah tembang lawas dengan satu tema sakti yang tak lekang dimakan usia… Cinta! Dengan kesederhanaan bahasanya yang justru menjadi mercu suar keindahan dan keabadiannya, Nuansa Bening ibarat sebuah oase di tengah sahara tandus dan gersang.

•♥•♥•

 “Waaaawww… akhirnya diputer juga! Asyikkk… !, “Gadis berkepang dua itu melompat senang lalu merangkul sahabatnya. Keduanya lantas tertawa cekikikan bersama.

“Suka banget sih sama lagu itu? Pasti karena judulnya! Ya kan?, “Tanya si sahabat yang berambut ekor kuda.

“Tepat-gulipat, jawabanmu benar akurat! He he he… Penyiarnya pasti penasaran. Tiap kali gue atensi, selalu lagu Nuansa Bening yang gue minta… hi hi hi…”

“Ah, ge-er aja loe!”

“Sst… diem. Lagunya dah kelar tuh. Sekarang kita ganti FM!”

“Apalagi? Aku ngantuk nih ! Klo acara baca-baca puisi itu lagi ogah ah ! Ntar juga loe minta lagunya Keenan lagi ! Bosen ! Dua lagu itu mulu ! Kalo ngga Nuansa Bening, pasti deh Dirimu ! Huh, ngga kesian apa sama telingamu itu ?”

Si gadis berkepang dua tak menggubris omelan sahabatnya. Jempol dan telunjuknya bekerja sama memutar frekuensi yang dicari. 101 Dalmatians FM!

Suara penyiarnya yang berat tapi empuk itu mulai terdengar. Gadis berkepang dua merapatkan telinganya. Kalau tidak, maka kaki sahabatnya itu yang akan menjungkalkan radio kesayangannya.

•♥•♥•

Dari air, kita belajar ketenangan
Dari batu, kita belajar ketegaran
Dari lebah, kita belajar banyak manfaat bagi sesama
Dari kupu-kupu, kita belajar mengubah diri menjadi lebih baik, lebih bermanfaat
Dari padi, kita belajar kerendahan hati
Dari Tuhan, kita belajar tentang… kasih sayang yang sempurna…

Tuhan sangat mampu untuk menciptakan keseragaman bila saja Dia mau. Namun diciptakanNya keanekaragam karena Dia ingin kita belajar saling mengenal… belajar saling mengisi… saling melengkapi… saling menegur dan menasehati… Dari situ kita akan temukan rasa saling membutuhkan, saling mencintai yang berujung pada rasa syukur.

Dari keanekaragaman Tuhan ingin kita tahu bahwa Dia Maha Kaya, Maha Mencipta, Maha Adil dan Maha Mengetahui. Keanekaragaman yang berbeda itu sejatinya indah kalau saja kita mau untuk lebih mencermati.

Andaikan Tuhan tidak menciptakan batu bersifat keras dan semen bersifat lembut ketika bercampur air, maka kita selamanya akan tinggal di dalam goa-goa, bukan di dalam sebuah rumah dengan tembok yang kokoh dan memberikan rasa aman kepada kita. Andaikan Tuhan tidak menciptakan perbedaan karakter, tentu kita akan menjadi manusia-manusia kerdil, karena tak adanya kompetisi sehat yang membangun kecerdasaan pemikiran kita.

Mari, kita sama-sama belajar bersatu dalam perbedaan… Jakarta, 14 September 1994

•♥•♥•

“Sahabat pendengar bijak, itu tadi goresan pena dari… Bondol ?? Halo, Bondol! Pasti rambutmu bondol ya? Ada-ada aja! Apa yang ditulis oleh Bondol semua benar. Dan itu merupakan goresan pena yang saya yakin, berasal dari pemikiran mendalam. Ya ngga, Bon?“

Ow-rite, sahabat pendengar bijak, mengakhiri sua kita tengah malam ini, satu lagu terakhir dari Gank Pegangsaan ‘Dirimu’. Diminta oleh Bondol di singgasana peraduan, begitu katanya, untuk seseorang yang selalu ada di kebeningan hatinya. Wow, Bondol memang selalu romantis ya?”

“Ini dulu dari saya. Selamat malam sahabat pendengar bijak. Selamat beristirahat. Terima kasih atensinya. Jumpa lagi dengan saya besok malam dalam program dan frekuensi yang sama… Bye…”

•♥•♥••♥•♥••♥•♥••♥•♥•

No comments:

Post a Comment