Tuesday, December 18, 2012

Hitam Bukan Hijau




[http://www.123rf.com]

~.~


            Hijau adalah warna matanya. Sewindu lebih, sejak hijau itu kupikir takkan muncul lagi. Hijau, hanya hijau, tanpa embel-embel gradasi. Hijau yang tenang namun selalu gagal mendamaikan hatiku.
            Mendadak ia datang. Si pemilik mata hijau itu. Hadirnya seketika menghentak hati dan pikiran yang telah lama jenak tanpa kelebat bayangnya sekalipun.
            Lihat! Ia ada di sana. Duduk mencangkung dikelilingi gelak tawa dan bahu-bahu terbuka yang berharap sebuah sentuhan. Bulu-bulu halus di tangannya yang bulai itu mungkin masih berjumlah sama, ah atau barangkali tidak, sebab usianya yang kini bertambah sewindu sejak pertama aku mengenalnya pasti telah merontokkannya sebagian. Namun caranya memeluk pinggang ramping berisi gelembung-gelembung champagne sama sekali tak berubah. Dengan sedikit guncangan mesra, mulutnya akan menyesap sedikit di bibir kristal yang bening. Setelahnya ia terbuka lebar menyambut setiap olok dan kelakar nakal yang tak terelakkan. Manakah yang lebih indah, mata hijaunya, leluconnya yang fresh, aksen koboy dari Selatan yang kental, entahlah. Mungkin juga kemilau gelembungnya, sebab aku tak dapat melihatnya jelas. Karena sentakan di dada ini begitu membuncah. Didukung fokus mataku yang ikut terpecah oleh sosok paruh bayanya yang terlihat semakin matang. Life begins at 50, kilahnya enteng saat disinggung soal kematangan usia.
            Cukup bicara tentangnya. Aku harus bergegas. Menghindar sejauh mungkin. Sebab terlalu dekat dengannya, terlalu lama eksis di sekelilingnya, hanyakan membuatku melayang di awang-awang, sedangku harus segera pulang. Ada seseorang yang akan bertanya dengan sepenuh khawatir di wajahnya yang sabar, seseorang yang setia dan selalu bersedia merangkum apa adanya diriku, utuh dan lengkap bersama kenangan masa laluku yang jelas-jelas mengganggunya.
            Aku terhuyung, eh tidak ding, bukan terhuyung, lebih tepatnya sedikit mengikuti goyangan kaki dan menyesuaikan derap taffeta, georgette dan chiffon yang melambai-lambai mengikuti irama dansa. Liuk sana, lenggok sini, aku berselibat di antara nafas-nafas yang terengah dan degup jantung yang serancak gesekan cakram digital. Ufs, nyaris saja aku jatuh tersungkur. Seribu bintang dan kunang di kepala menarikku maju-mundur. Ketika seseorang berbaik hati membantuku berdiri, tidak serta merta terima kasihku terlontar, justru makian kasar kulempar. Di kedai musik ini, selalu ada hidung belang yang iseng membuktikan buah ini kenyal asli atau busa yang dijejalkan atau silikon yang disumpalkan. Tapi percuma marah, pasar ini terlampau meriah, sulit bedakan sampah yang organik dan non-organik, munafik dan fasik atau yang tulen syafiq.  
            Lagi kuterhuyung, namun bantuan berikutnya kutepis dengan tegas. Dan sebelum benar-benar berakhir di bawah injakan sol-sol sepatu bermerek, kupilih sudut temaram yang menjadikanku semacam cecunguk. Kemudian, si pengecut inipun duduk menggelosor sembunyikan airmata yang sesekali tersorot warna merah, hijau, biru dan kuning dari langit-langit yang ikut berjoget genit. Berputar, berputar, berputar, oh ataukah dunia bertambah daya rotasinya? Senandung kecilkupun lantas tenggelam oleh lantun biduan yang berkostum kutang dan secuil celana dalam.
            ”Mau kemana-a-a kita-a-a…?” tanyaku parau, lindu masih menjeratku antara bumi dan langit, antara surga dan neraka, antara maya dan nyata. Segalanya nampak bergoyang. Kusamakan diriku saat ini bagai bulir beras di atas nampi.
            ”Tentu saja pulang, Sayang,” di sisa sadar yang kian menipis, kutahu itu kau, yang selalu cepat datang disaat kebutuhanku akan dirimu begitu mendesak. Kebutuhan akan pelukan, perlindungan dan segala sesuatu yang tersedia oleh rumah. Benar, kau adalah rumah. Dan kau tak keberatan dengan definisi itu. Justru suatu kehormatan, begitu katamu.
            ”Oh, berapa kali kubilang. Ganti, ganti, ganti parfummu!” teriakku ngawur, tanganku terjulur-julur, tak tahu mana dan apa yang harus kucapai. Lehermukah? Hmm, di sana ada kerakal tunggal yang membuat bibirku acap terjungkal. Ah, tidak-tidak! Di sana ada Bvlgari Extreme yang baunya memuakkan.
            Aku bernyanyi. Bukan senandung kecil lagi. Peduli itu dangdut koplo, tango criollo, poco-poco, atau slendro pathet manyuro. Kemudian ditutup dengan tawa mengikik karena kesadaran yang sedikit mengintip. Hihihi, betapa kacau musik indie yang kumainkan ini. Lucunya lagi, tanganku masih tak berhenti menggapai-gapai serupa dirijen yang menggila karena ditinggalkan awak orkestranya.
            “Arigato, domo arigato-to-to, tokek!” kataku mencoba sopan dalam kelimpungan. Pada akhirnya kutemukan handle sialan dari pintu mobil made in Japan yang melulu kalah balapan. Maaf, hihihi, tak seharusnya kusalahkan pening di kepala ini pada gen Ainu yang genius dan ambisius. “Maaf, maaf, arigato, arigato,” aku semakin menceracau. 
            ”Sumimasen.” Suaramu terdengar mengoreksi. Nah, kau mulai lagi. Tak tahan pada typo bahkan ketika kau tahu kosakata jepang memangnya sama sekali tak kukuasai.
            ”Arigato!” bantahku tak mengakui keunggulanmu. Senangnya bisa keras kepala dan membuatmu geleng-geleng kepala.
            “Lain kali jangan libatkan aku dalam reuni semacam ini. Dan kalau kau tak sanggup bertemu dengannya mengapa harus memaksakan diri?!” Kau bertanya sambil tanganmu bergerilya. Dengan lancangnya meraba, mengelus dan menekan pelan-pelan leherku yang acap kau puji jenjang ini. Weits! jangan membantah kalau kukatakan sesekali kau ambil kesempatan. Menyibak helai-helai kuduk yang lembut di tengkuk. Dan berani sumpah! kuyakin saat itu, matamu redup menatapku yang terkulai lemah. Kumohon, berhentilah untuk memandang iba, sebab tatap kasihanmu membuatku nampak sebagai pesakitan. Sesungguhnya, aku tak semenyedihkan itu.
            Hueekk! Hoaahkh! Aarggh! Di tepi dangau yang gelap, rehat dari jalan tol yang senyap, belai sayangmu itu mengakhiri deritaku. Ah, leganya.
            ”Kalau bisamu hanya Sex on the Beach, jangan berani coba yang lain! Dasar kau keras kepala! Tak takut dosa pula!” Kali ini kau berhasil memaki. Aku senang mendengarnya. Terkadang kau terlalu lembut untuk seorang pria. Itukah sebabnya kau tak pernah tega membiarkanku sendiri, bersenandung tembang kasmaran dan menginginkan dirinya dalam angan-angan seperti burung kecil rindukan terbang ke bulan. Bodoh? Ah, kaupun sama bodohnya! Seorang pria seharusnya tahu memasang harga dirinya. Bukan seperti kau yang justru membuangnya demi mengemis sisa cinta yang jelas takkan dapat kau kais kecuali atas kemurahan hati ini. Sorry.
            “Sepuluh tahun, dan sekarang tiap helai rambutnya putih semua.” Aku setengah bergumam. Lindu masih menjerat kepalaku. Nguing, nguing, nguing, hm…putaran yang nikmat dengan mata menggelanyut berat.
            “Berarti sudah tua dong?” ujarmu ringan, tanpa beralih pandangan.
            “Pesona usia paruh baya. Dan kau tahu? Matanya masih tetap sehijau dulu,” cepat kutambahkan sebelum mataku benar-benar terpejam. Rasa nyaman yang pantas kuperoleh setelah memuntahkan semua isi sloki yang entah berapa kali membanjiri lambung malang ini.
            “Tosca?” Kau gunakan nada getir dalam pertanyaanmu itu.
            “Aa…,” aku bimbang antara jujur yang akan menambah sakitmu atau bohong dengan bertameng mabukku.
            “Turquoise?” Kau memburuku.
            ”Ehm…,” dan aku masih menimbang.
            ”Green jade? Ayolah, aku tahu kau sudah cukup sadar untuk dapat mengingat apa tepatnya warna matanya kini. Dengan segala kenanganmu tentangnya, tak akan sulit memberikan definisi hijau pada sepasang mata yang telah membekukanmu, sehingar apapun warna-warna lampu di sana.”
            ”Ijo taik kebo ––,” jawabku kemudian. Semoga kau yang baik hati terbahak usai mendengarnya. Dan Tuhan yang baikpun sudi mengabulkan pintaku. Padahal belum lama kulanggar laranganNya, kutantang ancamanNya tentang pintu surga yang takkan Dia buka karena setetes perasaan anggur mixing likuid asin-getir-pahit, entah apa namanya. Ya-ya, kuakui sifat kasihNya memang tak pandang bulu. Kalau tak begitu, bukan Tuhan namanya. Hi-hi-hiks! Etanol yang mengalir dalam darahku pasti masih jauh dari nol. Hingga tanpa sungkan, tuhanpun kubuat konyol. 
            “Dasar kau!” bibirmu melengkung. Senyum itu memang lekas tercipta. Dan akan selalu ada, sesuram apapun kondisi yang kau hadapi. Senyum yang menghargai, walau cangkang kerang ini tak lagi ada isi. Sedahsyat itulah rupanya pesona yang kupunya.
            “Mengapa harus bertanya sih? Seolah belum cukup derita,” aku menatap sayu pada jalanan yang benar-benar bebas hambatan pada dini hari menjelang pagi.
            “Ada kalanya derita bisa menjadi pondasi kekuatan,” sergahmu berbau diplomasi. Usaha yang cukup kreatif.
            “Bukannya justru menjadi rapuh dan kesulitan untuk menjauh?” balasku tanpa bermaksud mengintimidasi.
            “Darimu aku tak perlu menjauh…,” dengan tenang kau buat aku terdiam. Pandanganmu lurus ke depan, ke jalanan lengang yang bisa dikebut dengan mata terpejam. Tapi gigi dua memaksa roda mobilmu menggelinding perlahan. Kubiarkan kau merayakan kemenanganmu.
            “Ini reuni tersepi. But, it’s okay,” tak sadar aku menghela nafas berat. “Sudah cukup hujan puisi dahulu itu. Aku pernah merasa kenyang hanya dengan berharap pada runtun surelnya yang sarat cerita walau tak satupun terselip kata cinta. Tak satupun! Gila, entah mengapa aku tak pernah menyadarinya. Aku dibutakan oleh bias perasaanku sendiri. Terlena angan yang dipahat di langit kehampaan. Begitu percaya bahwa cinta itu pasti disimpannya rapi untuk diungkapkannya di suatu hari yang tak sabar kunanti.”
            “Bodoh.”
            “That’s me. I said –was–, ya? Aku masih terlalu muda pada saat itu.”
            “Naif.”
            “Tentu saja! Itu pertama kalinya aku jatuh cinta! Ayam kampung yang datang ke kota lalu kelojotan saat bertemu albino bermata hijau lazuardi!” suaraku meninggi, tak terima penghinaannya, walau sekedar canda.
            ”Aah, jadi lazuardi tepatnya…”
            Aku spontan meringis. Terlambat untuk tutupi dusta yang bengis. Batinku lantas mengeluhkan kemenanganmu kali kedua ini.
            “Hijau kebiruan kiranya…” dan kau masih terus berdesis. “Serupa apakah warna itu? Lautan yang diteropong dari ketiadaan gravitasi? Langit yang berselubung aurora? Hm, aku penasaran sekali…” sambungmu, lirih tapi mengiris.
            “Arigato…,” selorohku asal jadi. Duh, kok lidahku bisa keselo. “Maksudku, sumimasen,” aku terkekeh mentertawai kebodohanku. Kau tersenyum kecil memaklumi kesadaranku yang –mungkin– belum sepenuhnya pulih.
            “Maaf untuk apa? Bukankah selama ini kau bebas membongkar pasang kotak kenanganmu tentang dirinya? Ngomong-ngomong, bahasa jepangmu parah. Pantas koboy itu lebih memilih kumpul kebo dengan geishanya. ”
            Hening sesaat. Apakah kau menyesali kalimat terakhir itu? Jangan, sebab segala rasaku sudah lama dikebiri. Samenleven atau living together, monggo kemawon brother.
            ”Koboy Milpitas?” mendadak kau ingin tahu sesuatu.
            ”Colorado,” jawabku kilat.
            “Waah, jadi benar, in wine there is truth,” timpalmu tak berdaya.
            Aku tersenyum memohon maklum. Ya, jangan terkejut dengan kecepatan dan ketepatan jawabanku. Tak mungkin menghilangkannya walau kepedulian telah sirna. Kecupan ringan segera kuhadiahkan dan kau menerimanya serupa berkah Tuhan.
            Gemericik air dari bilik mandi membuatku menahan diri. Pintunya yang tak kau kunci, tampilkan busa berlimpah yang menjajah tendon-tendon maskulinmu. Ah, mengapa baru kini kusadari kau sesungguhnya petarung sejati. Baiklah, nampaknya akupun harus bersiap diri. Ada ritual yang harus kami larung sebelum pagi benar-benar pergi.
            Kesadaranku pasti telah kembali, sebab di relung yang dasarnya tak kuketahui ada tekad yang memekik kuat lirih tentang kesanggupan menjadikan diri ini sebagai upeti, menyerahkannya secara utuh kepadamu, dan keputusan final untuk menutup rapat kotak yang kau sebut bebas untuk kubongkar pasang. Ini akan menjadi terakhir kalinya kubicarakan tentang dia denganmu. Besok, besok dan seterusnya, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Dalam sadar, setengah sadar, atau tepar alias mabuk berat yang nyaris sekarat. Aku janji.
            Ini sudah terlampau lama. Waktunya bagiku keluar dari penjara obsesi. Oh, belum pernah aku seyakin ini dalam memutuskan sesuatu. Dan dukungan moral itu datang tak terduga. Dukungan Tuhan, dukungan cinta, apapun namanya, yang pasti dukungan itu sungguh nyata. Pesan itu kubaca dalam rupa dua garis merah horisontal gerbangku memasuki fase maternity. Merah yang tegas. Tidak buram. Tidak samar. Merah. Bukan hijau. Merah bukan tengara kematian. Namun awal sebuah keajaiban. Inilah tiketku untuk keluar dari sepasang mata hijau yang telah lama memenjara. Tunggulah, sampai kau mendengarnya!
            Berbekal tekad dan kepercayaan diri yang bulat, segera kukosongkan kamar mandi. Detakan dalam dada segemuruh ayun langkahku berlari. Tak sabar sampaikan breaking news yang kuyakin mampu hadirkan bahagiamu dan hapuskan sesal akan panjangnya waktu semasa menungguku.
            “Sayang…?” panggilku penuh sayang. “Cinta… ?” seruku sarat cinta. Kusapu peraduan, tapi hanya suaraku saja yang terdengar mengambang. Seperti gema di ruangan hampa. Dan ‘hampa’ benar menjadi jawabannya. Sebab tak kudapati kau yang kupikir masih berlindung dibalik kehangatan selimut dan lelap yang jangkap karena cangkang ini sudah kembali terisi. Bukan lagi cangkang kosong yang tiap malam kau gauli. Cangkang ini telah benar-benar utuh sebagai diriku yang kaumaui.
            Perlahan kuletakkan test pack bergaris merah kembar. Tepat di samping secarik kertas yang sekaku mori. Pastinya telah kau tinggalkan dengan penuh pertimbangan dan keputusan yang berat kau turuti. Demikian batinku menghibur diri.
            Di kertas itu, kau hujani aku dengan puisi. Padahal sudah lama tak kukehendaki adanya bait dan rima yang membuatku mati suri. Harus kukumpulkan banyak daya sebelum membaca tulisanmu yang merampok air mata…

…Maaf, bila harus kusudahi sampai hari ini. Awalnya memang tak pernah kuhitung waktu. Hingga sepuluh tahun ini, sayangnya itu masih belum cukup bagimu melepaskan diri. Salahku, mengapa harus bertanya tentang berapa lama lagi waktu yang kau butuhkan. Namun pagi ini, kidungmu tentang dirinya begitu sedih dan pilu, hingga menyadarkanku bahwa dinding yang kau bangun terlampau tebal untuk ditembus.

…Maaf, harusnya kugandakan ketidakpedulianku. Harusnya kuterima saja semuanya apa adanya seperti telah terikrar selama ini. Atau mungkin bila tak kusisakan harga diri dan peduli setan akan aset yang konon harus dimiliki pejantan, barangkali aku masih dampingimu bersenandung nyanyian kasmaran. Mana tahu lagu itu kelak kan kau tujukan kepadaku. Jadi, jangan pernah maafkan ketidaksabaranku ini. Ya, dan jangan berhenti mengutuk ketidak-gigihanku ini.

…Seperti halnya kau yang tak sanggup padamkan walau tinggal sekelip dian kenangan itu. Maka jangan coba padamkan lentera cintaku kepadamu. Dan biarkanku terus memohon pencerah untukmu yang masih tersesat dalam pencarian cinta dan menggali bahagia yang hakiki.

…Aku pergi. Menjauh mungkin telah kurasa perlu. Dan bila waktu ditakdirkan mengulang kehidupan, kumohon ingatlah tentangku. Coklat itu warna kulitku. Tinggiku sedang tak setinggi para penunggang sapi liar. Mungkin akan kutukar Bvlgari dengan keringatku sendiri, agar igaumu hanya tentangku saja di atas peraduan. Dan hitam, itu warna pandangan mataku yang selalu khusus buatmu. Sungguh, andai bisa kuubah hitam itu seperti warna mata priamu, koboy dari masa lalu…

***



No comments:

Post a Comment