[http://www.123rf.com]
~.~
Hijau adalah warna matanya. Sewindu
lebih, sejak hijau itu kupikir takkan muncul lagi. Hijau, hanya hijau, tanpa
embel-embel gradasi. Hijau yang tenang namun selalu gagal mendamaikan hatiku.
Mendadak ia datang. Si pemilik mata hijau
itu. Hadirnya seketika menghentak hati dan pikiran yang telah lama jenak tanpa
kelebat bayangnya sekalipun.
Lihat! Ia ada di sana. Duduk mencangkung dikelilingi gelak tawa
dan bahu-bahu terbuka yang berharap sebuah sentuhan. Bulu-bulu halus di tangannya
yang bulai itu mungkin masih berjumlah sama, ah atau barangkali tidak, sebab usianya
yang kini bertambah sewindu sejak pertama aku mengenalnya pasti telah merontokkannya
sebagian. Namun caranya memeluk pinggang ramping berisi gelembung-gelembung
champagne sama sekali tak berubah. Dengan sedikit guncangan mesra, mulutnya
akan menyesap sedikit di bibir kristal yang bening. Setelahnya ia terbuka lebar
menyambut setiap olok dan kelakar nakal yang tak terelakkan. Manakah yang lebih
indah, mata hijaunya, leluconnya yang fresh, aksen koboy dari Selatan yang
kental, entahlah. Mungkin juga kemilau gelembungnya, sebab aku tak dapat melihatnya
jelas. Karena sentakan di dada ini begitu membuncah. Didukung fokus mataku yang
ikut terpecah oleh sosok paruh bayanya yang terlihat semakin matang. Life
begins at 50, kilahnya enteng saat disinggung soal kematangan usia.
Cukup bicara tentangnya. Aku harus bergegas.
Menghindar sejauh mungkin. Sebab terlalu dekat dengannya, terlalu lama eksis di
sekelilingnya, hanyakan membuatku melayang di awang-awang, sedangku harus
segera pulang. Ada seseorang yang akan bertanya dengan sepenuh khawatir di
wajahnya yang sabar, seseorang yang setia dan selalu bersedia merangkum apa
adanya diriku, utuh dan lengkap bersama kenangan masa laluku yang jelas-jelas
mengganggunya.
Aku terhuyung, eh tidak ding, bukan terhuyung, lebih tepatnya sedikit
mengikuti goyangan kaki dan menyesuaikan derap taffeta, georgette dan chiffon yang
melambai-lambai mengikuti irama dansa. Liuk sana, lenggok sini, aku berselibat
di antara nafas-nafas yang terengah dan degup jantung yang serancak gesekan
cakram digital. Ufs, nyaris saja aku jatuh tersungkur. Seribu bintang dan
kunang di kepala menarikku maju-mundur. Ketika seseorang berbaik hati
membantuku berdiri, tidak serta merta terima kasihku terlontar, justru makian
kasar kulempar. Di kedai musik ini, selalu ada hidung belang yang iseng
membuktikan buah ini kenyal asli atau busa yang dijejalkan atau silikon yang
disumpalkan. Tapi percuma marah, pasar ini terlampau meriah, sulit bedakan
sampah yang organik dan non-organik, munafik dan fasik atau yang tulen syafiq.
Lagi kuterhuyung, namun bantuan
berikutnya kutepis dengan tegas. Dan sebelum benar-benar berakhir di bawah
injakan sol-sol sepatu bermerek, kupilih sudut temaram yang menjadikanku
semacam cecunguk. Kemudian, si pengecut inipun duduk menggelosor sembunyikan
airmata yang sesekali tersorot warna merah, hijau, biru dan kuning dari
langit-langit yang ikut berjoget genit. Berputar, berputar, berputar, oh
ataukah dunia bertambah daya rotasinya? Senandung kecilkupun lantas tenggelam
oleh lantun biduan yang berkostum kutang dan secuil celana dalam.
”Mau kemana-a-a kita-a-a…?” tanyaku parau, lindu masih menjeratku antara
bumi dan langit, antara surga dan neraka, antara maya dan nyata. Segalanya
nampak bergoyang. Kusamakan diriku saat ini bagai bulir beras di atas nampi.
”Tentu saja pulang,
Sayang,” di sisa sadar yang kian menipis, kutahu itu kau, yang selalu cepat
datang disaat kebutuhanku akan dirimu begitu mendesak. Kebutuhan akan pelukan, perlindungan dan segala sesuatu yang
tersedia oleh rumah. Benar, kau adalah rumah. Dan kau tak keberatan dengan
definisi itu. Justru suatu kehormatan, begitu katamu.
”Oh, berapa kali kubilang. Ganti,
ganti, ganti parfummu!” teriakku ngawur, tanganku terjulur-julur, tak tahu mana
dan apa yang harus kucapai. Lehermukah? Hmm, di sana ada kerakal tunggal yang membuat
bibirku acap terjungkal. Ah, tidak-tidak! Di sana ada Bvlgari Extreme yang
baunya memuakkan.
Aku bernyanyi. Bukan senandung kecil
lagi. Peduli itu dangdut koplo, tango criollo, poco-poco, atau slendro pathet
manyuro. Kemudian ditutup dengan tawa mengikik karena kesadaran yang sedikit
mengintip. Hihihi, betapa kacau musik indie yang kumainkan ini. Lucunya lagi, tanganku
masih tak berhenti menggapai-gapai serupa dirijen yang menggila karena
ditinggalkan awak orkestranya.
“Arigato,
domo arigato-to-to, tokek!” kataku mencoba sopan dalam kelimpungan. Pada akhirnya
kutemukan handle sialan dari pintu mobil made in Japan yang melulu kalah
balapan. Maaf, hihihi, tak seharusnya kusalahkan pening di kepala ini pada gen
Ainu yang genius dan ambisius. “Maaf, maaf, arigato, arigato,” aku semakin
menceracau.
”Sumimasen.”
Suaramu terdengar mengoreksi. Nah, kau mulai lagi. Tak tahan pada typo bahkan
ketika kau tahu kosakata jepang memangnya sama sekali tak kukuasai.
”Arigato!” bantahku tak mengakui
keunggulanmu. Senangnya bisa keras kepala dan membuatmu geleng-geleng kepala.
“Lain kali jangan libatkan aku dalam reuni
semacam ini. Dan kalau kau tak sanggup bertemu dengannya mengapa harus
memaksakan diri?!” Kau bertanya sambil tanganmu bergerilya. Dengan lancangnya
meraba, mengelus dan menekan pelan-pelan leherku yang acap kau puji jenjang ini.
Weits! jangan membantah kalau kukatakan sesekali kau ambil kesempatan. Menyibak
helai-helai kuduk yang lembut di tengkuk. Dan berani sumpah! kuyakin saat itu,
matamu redup menatapku yang terkulai lemah. Kumohon, berhentilah untuk
memandang iba, sebab tatap kasihanmu membuatku nampak sebagai pesakitan.
Sesungguhnya, aku tak semenyedihkan itu.
Hueekk! Hoaahkh! Aarggh! Di
tepi dangau yang gelap, rehat dari jalan tol yang senyap, belai sayangmu itu mengakhiri
deritaku. Ah, leganya.
”Kalau bisamu hanya Sex on the Beach, jangan berani coba yang
lain! Dasar kau keras kepala! Tak takut dosa pula!” Kali ini kau berhasil memaki.
Aku senang mendengarnya. Terkadang kau terlalu lembut untuk seorang pria.
Itukah sebabnya kau tak pernah tega membiarkanku sendiri, bersenandung tembang
kasmaran dan menginginkan dirinya dalam angan-angan seperti burung kecil
rindukan terbang ke bulan. Bodoh? Ah, kaupun sama bodohnya! Seorang pria
seharusnya tahu memasang harga dirinya. Bukan seperti kau yang justru
membuangnya demi mengemis sisa cinta yang jelas takkan dapat kau kais kecuali
atas kemurahan hati ini. Sorry.
“Sepuluh tahun, dan sekarang tiap
helai rambutnya putih semua.” Aku setengah bergumam. Lindu masih menjerat
kepalaku. Nguing, nguing, nguing, hm…putaran yang nikmat dengan mata
menggelanyut berat.
“Berarti sudah tua dong?” ujarmu
ringan, tanpa beralih pandangan.
“Pesona usia paruh baya. Dan kau
tahu? Matanya masih tetap sehijau dulu,” cepat kutambahkan sebelum mataku
benar-benar terpejam. Rasa nyaman yang pantas kuperoleh setelah memuntahkan semua
isi sloki yang entah berapa kali membanjiri lambung malang ini.
“Tosca?” Kau gunakan nada getir
dalam pertanyaanmu itu.
“Aa…,” aku bimbang antara jujur yang
akan menambah sakitmu atau bohong dengan bertameng mabukku.
“Turquoise?” Kau memburuku.
”Ehm…,” dan aku masih
menimbang.
”Green jade? Ayolah, aku
tahu kau sudah cukup sadar untuk dapat mengingat apa tepatnya warna matanya
kini. Dengan segala kenanganmu tentangnya, tak akan sulit memberikan definisi
hijau pada sepasang mata yang telah membekukanmu, sehingar apapun warna-warna
lampu di sana.”
”Ijo taik kebo ––,” jawabku kemudian. Semoga kau yang baik hati
terbahak usai mendengarnya. Dan Tuhan yang baikpun sudi mengabulkan pintaku.
Padahal belum lama kulanggar laranganNya, kutantang ancamanNya tentang pintu
surga yang takkan Dia buka karena setetes perasaan anggur mixing likuid asin-getir-pahit,
entah apa namanya. Ya-ya, kuakui sifat kasihNya memang tak pandang bulu. Kalau
tak begitu, bukan Tuhan namanya. Hi-hi-hiks! Etanol yang mengalir dalam darahku pasti
masih jauh dari nol. Hingga tanpa sungkan, tuhanpun kubuat konyol.
“Dasar kau!” bibirmu
melengkung. Senyum itu memang lekas tercipta. Dan akan selalu ada, sesuram
apapun kondisi yang kau hadapi. Senyum
yang menghargai, walau cangkang kerang ini tak lagi ada isi. Sedahsyat itulah
rupanya pesona yang kupunya.
“Mengapa harus bertanya sih? Seolah
belum cukup derita,” aku menatap sayu pada jalanan yang benar-benar bebas
hambatan pada dini hari menjelang pagi.
“Ada kalanya derita bisa menjadi pondasi
kekuatan,” sergahmu berbau diplomasi. Usaha yang cukup kreatif.
“Bukannya justru menjadi
rapuh dan kesulitan untuk menjauh?” balasku tanpa bermaksud mengintimidasi.
“Darimu aku tak perlu
menjauh…,” dengan tenang kau buat aku terdiam. Pandanganmu lurus ke depan, ke
jalanan lengang yang bisa dikebut dengan mata terpejam. Tapi gigi dua memaksa
roda mobilmu menggelinding perlahan. Kubiarkan kau merayakan kemenanganmu.
“Ini reuni tersepi. But,
it’s okay,” tak sadar aku menghela nafas berat. “Sudah cukup hujan puisi dahulu
itu. Aku pernah merasa kenyang hanya dengan berharap pada runtun surelnya yang
sarat cerita walau tak satupun terselip kata cinta. Tak satupun! Gila, entah
mengapa aku tak pernah menyadarinya. Aku dibutakan oleh bias perasaanku
sendiri. Terlena angan yang dipahat di langit kehampaan. Begitu percaya bahwa
cinta itu pasti disimpannya rapi untuk diungkapkannya di suatu hari yang tak
sabar kunanti.”
“Bodoh.”
“That’s me. I said –was–, ya? Aku masih terlalu muda pada saat itu.”
“Naif.”
“Tentu saja! Itu pertama
kalinya aku jatuh cinta! Ayam kampung yang datang ke kota lalu kelojotan saat
bertemu albino bermata hijau lazuardi!” suaraku meninggi, tak terima
penghinaannya, walau sekedar canda.
”Aah, jadi lazuardi tepatnya…”
Aku spontan meringis. Terlambat
untuk tutupi dusta yang bengis. Batinku lantas mengeluhkan kemenanganmu kali kedua
ini.
“Hijau kebiruan kiranya…” dan kau
masih terus berdesis. “Serupa apakah warna itu? Lautan yang diteropong dari
ketiadaan gravitasi? Langit yang berselubung aurora? Hm, aku penasaran sekali…”
sambungmu, lirih tapi mengiris.
“Arigato…,” selorohku asal jadi. Duh,
kok lidahku bisa keselo. “Maksudku, sumimasen,” aku terkekeh mentertawai
kebodohanku. Kau tersenyum kecil memaklumi kesadaranku yang –mungkin– belum sepenuhnya pulih.
“Maaf untuk apa? Bukankah selama ini
kau bebas membongkar pasang kotak kenanganmu tentang dirinya? Ngomong-ngomong,
bahasa jepangmu parah. Pantas koboy itu lebih memilih kumpul kebo dengan
geishanya. ”
Hening sesaat. Apakah kau menyesali
kalimat terakhir itu? Jangan, sebab segala rasaku sudah lama dikebiri.
Samenleven atau living together, monggo kemawon brother.
”Koboy Milpitas?” mendadak kau ingin
tahu sesuatu.
”Colorado,” jawabku kilat.
“Waah, jadi benar, in wine there is
truth,” timpalmu tak berdaya.
Aku tersenyum memohon maklum. Ya,
jangan terkejut dengan kecepatan dan ketepatan jawabanku. Tak mungkin
menghilangkannya walau kepedulian telah sirna. Kecupan ringan segera
kuhadiahkan dan kau menerimanya serupa berkah Tuhan.
Gemericik air dari bilik mandi membuatku menahan
diri. Pintunya yang
tak kau kunci, tampilkan busa berlimpah yang menjajah tendon-tendon maskulinmu.
Ah, mengapa baru kini kusadari kau sesungguhnya petarung sejati. Baiklah,
nampaknya akupun harus bersiap diri. Ada ritual yang harus kami larung sebelum
pagi benar-benar pergi.
Kesadaranku pasti telah kembali,
sebab di relung yang dasarnya tak kuketahui ada tekad yang memekik kuat lirih
tentang kesanggupan menjadikan diri ini sebagai upeti, menyerahkannya secara
utuh kepadamu, dan keputusan final untuk menutup rapat kotak yang kau sebut
bebas untuk kubongkar pasang. Ini akan menjadi terakhir kalinya kubicarakan
tentang dia denganmu. Besok, besok dan seterusnya, aku berjanji tidak akan melakukannya
lagi. Dalam sadar, setengah sadar, atau tepar alias mabuk berat yang nyaris
sekarat. Aku janji.
Ini sudah terlampau lama. Waktunya
bagiku keluar dari penjara obsesi. Oh, belum pernah aku seyakin ini dalam
memutuskan sesuatu. Dan dukungan moral itu datang tak terduga. Dukungan Tuhan, dukungan cinta, apapun namanya, yang pasti
dukungan itu sungguh nyata. Pesan itu kubaca dalam rupa dua garis merah
horisontal gerbangku memasuki fase maternity. Merah yang tegas. Tidak buram.
Tidak samar. Merah. Bukan hijau. Merah bukan tengara kematian. Namun awal
sebuah keajaiban. Inilah tiketku untuk keluar dari sepasang mata hijau yang
telah lama memenjara. Tunggulah, sampai kau mendengarnya!
Berbekal tekad dan kepercayaan diri
yang bulat, segera kukosongkan kamar mandi. Detakan dalam dada segemuruh ayun
langkahku berlari. Tak sabar sampaikan breaking news yang kuyakin mampu
hadirkan bahagiamu dan hapuskan sesal akan panjangnya waktu semasa menungguku.
“Sayang…?” panggilku penuh sayang. “Cinta… ?”
seruku sarat cinta. Kusapu peraduan, tapi hanya suaraku saja yang terdengar
mengambang. Seperti gema di ruangan hampa. Dan ‘hampa’ benar menjadi
jawabannya. Sebab tak kudapati kau yang kupikir masih berlindung dibalik
kehangatan selimut dan lelap yang jangkap karena cangkang ini sudah kembali
terisi. Bukan lagi cangkang kosong yang tiap malam kau gauli. Cangkang ini
telah benar-benar utuh sebagai diriku yang kaumaui.
Perlahan kuletakkan test pack
bergaris merah kembar. Tepat di samping secarik kertas yang sekaku mori. Pastinya
telah kau tinggalkan dengan penuh pertimbangan dan keputusan yang berat kau
turuti. Demikian batinku menghibur diri.
Di kertas itu, kau hujani aku dengan
puisi. Padahal sudah lama tak kukehendaki adanya bait dan rima yang membuatku
mati suri. Harus kukumpulkan banyak daya sebelum membaca tulisanmu yang
merampok air mata…
…Maaf, bila harus kusudahi sampai hari ini. Awalnya
memang tak pernah kuhitung waktu. Hingga sepuluh tahun ini, sayangnya itu masih
belum cukup bagimu melepaskan diri. Salahku,
mengapa harus bertanya tentang berapa lama lagi waktu yang kau butuhkan. Namun pagi
ini, kidungmu tentang dirinya begitu sedih dan pilu, hingga menyadarkanku bahwa
dinding yang kau bangun terlampau tebal untuk ditembus.
…Maaf, harusnya kugandakan ketidakpedulianku.
Harusnya kuterima saja semuanya apa adanya seperti telah terikrar selama ini.
Atau mungkin bila tak kusisakan harga diri dan peduli setan akan aset yang
konon harus dimiliki pejantan, barangkali aku masih dampingimu bersenandung nyanyian
kasmaran. Mana tahu lagu itu kelak kan kau tujukan kepadaku. Jadi, jangan
pernah maafkan ketidaksabaranku ini. Ya, dan jangan berhenti mengutuk ketidak-gigihanku
ini.
…Seperti halnya kau yang tak sanggup padamkan
walau tinggal sekelip dian kenangan itu. Maka jangan coba padamkan lentera
cintaku kepadamu. Dan biarkanku terus memohon pencerah untukmu yang masih
tersesat dalam pencarian cinta dan menggali bahagia yang hakiki.
…Aku pergi. Menjauh mungkin telah kurasa
perlu. Dan bila waktu ditakdirkan mengulang kehidupan, kumohon ingatlah
tentangku. Coklat itu warna kulitku. Tinggiku sedang tak setinggi para
penunggang sapi liar. Mungkin akan kutukar Bvlgari dengan keringatku sendiri,
agar igaumu hanya tentangku saja di atas peraduan. Dan
hitam, itu warna pandangan mataku yang selalu khusus buatmu. Sungguh, andai
bisa kuubah hitam itu seperti warna mata priamu, koboy dari masa lalu…
***

No comments:
Post a Comment