Tuesday, March 26, 2013

[Nuansa Bening-2] Rest In Cloud


[sumber gambar: pinjam dari Appunti]


•♥•♥•


“Masih sedih ya?”

Bocah lelaki itu mengangguk kecil. Lalu kepalanya ditundukkan dalam-dalam. Dari hidungnya mengalir dua anak sungai. Segera disekanya dengan ujung jas warna biru cerah.

“Sudahlah, jangan sedih, mama kamu pasti sudah di surga“

Si bocah lelaki terlihat beringsut mendekati temannya yang berambut sama pendek. Teman baru yang tak sengaja ditemui saat hendak melarikan kesedihannya. Teman yang semula dikira sesama lelaki, namun menyadari sedikit yang berbeda di dadanya, si bocah lelaki segera tahu, temannya ini seorang anak perempuan.

“Darimana kamu tahu mamaku sudah ada di surga ?, “Tanya si bocah lelaki.

Malu-malu, dia melirik temannya yang nampak asyik meremas tanah liat. Tangannya segera tertarik mencomot sedikit gumpalannya. Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk menjalin keakraban. Sejurus berlalu, keduanya sudah larut sibuk. Gemas meremas, bergelut saling memilin. Dan berbarislah beragam bentuk dari keliatan tanah yang lembut dan menurut patuh dalam kepalan sepasang tangan kecil yang tak peduli noda coklat bahkan sudah sampai ke leher dan ujung-ujung rambut.
                                                 
“Dari nenekku“

“Oh, kamu anak perempuan yang kemarin itu ya ? Yang datang sama nenek tua itu. Cuma kamu dan nenekmu yang bawa baskom ke gereja, “Kata si bocah lelaki. Ia terlihat menambah koloni bebek dan rupa-rupa bentuk binatang yang badan lempungnya sudah mulai kering. Di wajah polosnya tak ada lagi kesedihan yang semula hendak dilarungnya di tambak ini.

“Iya, itu aku“

“Apa isi baskom itu?, “Tanya si bocah lelaki lagi. Lelah berjongkok, dia jatuhkan pantat gempalnya di tepian tambak. Tak berpikir setelan jas dan celana panjangnya sudah penuh dengan tambahan warna coklat di sana-sini. Setempel alami dari keriangan yang ditemukan dalam keliatan yang menyenangkan.

“Beras sama uang sekedarnya, memang apalagi? Kata nenek, itulah tanda ikut berduka kepada keluarga yang ditinggalkan almarhum. Kami tidak punya uang lebih untuk beli bunga. Lagian bunga itu cepat layu. Kalau beras bisa ditanak. Uang bisa untuk beli lauk. Begitu kata nenek”

“Oh, begitu ya? Nama kamu siapa?, “Senyum si bocah lelaki tersungging manis. Di pucuk hidungnya yang kembang kempis bertengger setitik tanah liat. Sedang di kedua pipinya yang chubby, terlihat guratan coklat turut menghiasi.

“Masak tidak tahu namaku? Kamu orang baru ya?”

“Iya. Aku juga baru pernah main sejauh ini, “Jawab si bocah. Riak wajahnya menunjukkan kecemasan mendengar kata ‘orang baru’. Kekhawatiran akan ditinggalkan oleh teman barunya itu. Padahal baru saja ditemukan olehnya keasyikan bercakap-cakap sambil meremas-remas tanah liat. Berharap kesedihannya pun bisa ikut lumat.

“Namaku Bening…, bagus kan?”

“Oh, ternyata kamu! Hi hi hi, jadi yang sering dipanggil ‘Beling sing mbeling’ sama anak-anak itu ya?, “Bersemangat si bocah lelaki mendengarnya. Telah cukup lama didengarnya nama aneh itu. Kini keheranan atas nama ‘Beling sing mbeling’ terjawab sudah. Dia pikir, mengapa seseorang bisa dinamakan Beling? Sedang setahunya, kata beling bermakna sama dengan kaca. Dan ‘mbeling’? Bukankah itu berarti bandel? Beling yang bandel? Tak disangka…

“Apa? Beling sing mbeling? Dengar dari mana kamu?! B-E-N-I-N-G!..., “Si bocah perempuan yang dipanggil Bening itu, menjawab dengan bentuk protes di bibir mungilnya yang mengerucut. Masih dengan muka masam memberengut, dia meraih ranting dan menuliskan namanya di atas permukaan tanah hitam. B-e-n-i-n-g…

“Iya-iya… he he he, “Terkekeh si bocah lelaki mendengar protes si mbeling, ups… Bening.          
“Mengapa orang-orang bernyanyi di depan orang meninggal?“

Bening tak pedulikan tawa mengekeh temannya. Rasa ingin tahunya lebih besar dari sekedar menanggapi ledekan tak berarti. Pengalamannya kemarin masih membekas di benaknya yang cerdas. Tangannya masih sibuk menyiksa tanah liat yang sebagian meleber, melarikan diri di antara sela jari mungilnya.

“Itu lagu rohani. Itu pujian kepada Tuhan yang mengiringi kepergian mamaku. Juga agar mama tahu, bahwa kepergiannya tidak membuat kami larut dalam kesedihan, “Jawab tegas si bocah lelaki. Penuh kebanggaan, karena merasa telah berhasil sempurna mengulangi perkataan orang-orang dewasa, seperti di dengarnya kemarin.

“Oh… begitu. Sama dong. Waktu kakekku meninggal juga begitu. Orang-orang datang ke rumah. Berkumpul, lalu duduk bersimpuh. Kemudian bersahut-sahutan dalam membaca kitab suci. Kami menyebutnya selametan… eh bukan, tapi tahlilan!“

Bening cepat menutup mulutnya yang keliru menyebut. Tak menyadari sebagian noda coklat yang menyenangkan itu lantas berpindah ke permukaan pipinya. Dia tertawa tanpa beban, memamerkan barisan karies gigi susunya yang berwarna hitam.

Tawa yang seketika disusul tawa si bocah lelaki. Tawa yang berasal dari mulut yang berkaries sama hitam dan sebagian sudah tanggal. Tawa yang membuatnya lupa akan kesedihan dan kesepian karena kepergian mamanya beberapa hari yang telah silam.

“Kalau kau ingat mamamu, lihat saja patung ibu-ibu berkerudung yang menggendong bayi itu. Aku melihatnya kemarin. Ada di dinding gerejamu”

“Aah, itu patung Bunda Maria. Benar juga apa katamu, Bening. Kamu pintar! Diajarin ya sama nenekmu? Hayoh, ngaku aja…, “Si bocah lelaki mengulurkan bunga tanah liat yang dibentuknya. Bening menerimanya dengan suka cita.

“Bunda Maria?”

“Iya, Bunda Maria. Tapi kamu menyebutnya Siti Maryam, “Si bocah lelaki itu mengulurkan bunga tanah liat ketiga. Bening lantas meletakkannya di depan tanah liat yang dikepalnya memanjang seperti cacing.

“Kamu bikin apa, Bening? Cacing ya? Jangan diletakkan di situ! Nanti bunganya dimakan cacing loh?”

“Bukan cacing! Ini pintu gerbang rumah, makanya kutaruh bunga-bunganya di situ, “Bening menjawab polos sambil tangannya sibuk menata bunga-bunga tanah liat. “Kok kamu tahu Siti Maryam? “

“Tahu dong. Di sekolahku yang dulu, belum ada guru agama Katolik, jadi aku ikut pelajaran agama Islam. Boleh juga sih keluar dari kelas, misalnya ke perpustakaan, tapi di sana tidak banyak teman, jadi aku malas. Aku diijinkan tinggal di dalam kelas, asalkan tidak menganggu teman yang sedang belajar pelajaran agama Islam. Makanya aku tahu, Ning“

“Oh, begitu ya…,”

Bening nampak tak peduli dengan jawaban si bocah lelaki. Yang dilakukannya justru iseng menyentuh jidat temannya itu. Dan sontak terbahak melihat segenggam tanah liat berpindah tempat. Kemudian tergesa bangkit dari tempatnya bersimpuh, saat dilihat temannya nampak gemas meremas tanah liat dan bergegas hendak membalas.

Keduanya berlarian sepanjang pematang tambak. Dengan masing-masing tangan terkepal. Menyembunyikan gumpalan tanah liat. Lalu peluru-peluru lembek itu saling melesat, mencari targetnya. Tawa keduanya belum berhenti, meski menyadari kaus hijau dengan celana pendek merah yang dipakai Bening sudah total berubah warna. Sedang setelan jas dan celana panjang si Bocah lelaki, hilang warna cerah birunya.

“Lihat! Ada memedi sawah! Ha ha ha ha!

Bening terpingkal. Telunjuknya mengarah pada si bocah lelaki yang matanya kedap-kedip mengusir partikel kecil tanah liat yang nyasar masuk ke matanya.

“Enak saja! Kamu tuh! Kamu yang memedi sawah!, “Bocah lelaki itu tak mau kalah. Matanya masih sipit-sipit, mencari celah agar bisa melihat seteru yang telah mengubahnya menjadi hantu tanah liat.

Bening menggegam tangan si bocah lelaki. Menuntunnya ke belik, dimana ada pancuran bambu yang biasa dipakai nenek mencuci pantat periuk yang hitam pekat setelah bersetubuh dengan pawon.

“Hei! Jangan buka bajumu!“

Bening cepat mencengkeram tangan temannya itu. Menghalangi maksudnya membuka pakaian berupa setelan jas dan celana panjang.

“Bersihkan saja tanahnya dari bajumu itu, supaya nanti tidak sulit saat dicuci! Setelah itu, cepat sana… lari secepatnya ke rumahmu. Anak lelaki tidak boleh cengeng! Nanti kalau dimarahi ayahmu, jangan nangis! Sana-sana… cepat!“

Bening menolak tubuh temannya yang masih asyik menikmati guyuran air dari pancuran bambu. Dengan tertatih dititinya tangga batu yang semula mengantarnya ke belik. Dia harus segera kembali ke rumah, atau nenek akan cemas menantinya yang tak kunjung pulang.

“Eh iya. Siapa namamu?, “Tiba-tiba Bening berbalik arah.

Dari balik kucuran air yang deras menimpa wajahnya, dan mulutnya yang gelagapan menampung luapan air, si bocah lelaki menjawab, “Apa-a-a-a…?!?!”

“Nama kamu! Nama kamu siapa?, “Setengah berteriak Bening mengulang pertanyaannya.

“Edu…! Eduin Sindua! Panggil saja, Edu! E-D-U… !!”


•♥•♥••♥•♥•

No comments:

Post a Comment