Tuesday, March 26, 2013

[Nuansa Bening-1] Rest In Hope


[sumber gambar: pinjam dari Appunti]


•♥•♥•


“Apa kabar, Nek?! Sehatkah?, “Edu membungkukkan badannya, lembut diciumnya punggung tangan nenek Salima yang kulitnya telah lama kehilangan elastisitas.

“Nenek sehat, Alhamdulillah, nak Edu. Yang sakit itu tuh, orang yang mengaku tidak pernah merasa sakit... “Nenek Salima menunjukkan arah belakang rumahnya dengan bibir bergincu sirih dan pinang.

Edu celingak-celinguk di halaman belakang. Yang nampak hanya aneka tanaman apotek hidup yang dipagari gerumbul perdu yang terpangkas rapi. Mereka adalah sereh, kumis kucing, curcuma, ginger, lengkuas. Di depannya berbaris lidah-lidah hijau yang tepiannya beronak, aloe vera. Di samping kiri ada pohon jambu biji, pohon salam, dan sambiloto. Di sudut kanan ada perdu dengan bunyanya yang berkelopak kecil-kecil berwarna putih cantik dengan keharuman khas tiada dua, apalagi namanya kalau bukan, melati. Sungguh apotek hidup yang lengkap, tumbuh subur bebas merdeka. Tidak mungkin nenek Salima, ini pasti hasil kerja keras sepasang tangan dingin milik…… Kemana sih sebenarnya, si pasien? Sendal selen!

“Ben…! Bendot Bendekil…!, ”Edu berteriak memanggil pasien yang direkomendasikan nenek. “Sepi kok, padahal kata nenek di belakang? Sendal selen! Kemana sih mahluk ngga jelas gender-nya itu? Neneknya bilang dia sakit. Mengapa tak nampak ujung hidungnya pun?”

Tiba-tiba sebuah genteng meluncur bebas dari atas atap rumah. Edu sigap melompat. Berkelit dengan jurus kobra sakti menggayuh bulan purnama merah jingga. Ciaatt…!! Hop! Nyaris saja kepalanya menjadi landasan luncur genteng tak bertuan itu.

“Sapa tuh di bawah?! Ada orang?!, “Sebuah suara terdengar melengking nyaring. Soprano dramatik.

“Badrun…!! Kaukah itu…?! Cepetan naik mariii…!!! Bantuian aku… !!!, ”Ambitus soprano-nya semakin tinggi. Ditambah falsetto-mblero akibatkan kerja uvula yang kelewat dipaksakan. Sember dan terjepit. Sebentar lagi, pasti disusul batuk-batuk kecil…

”Uhuk…huk…huks ! Drun, Badrun… ! Pantes da-ah, nama loe Budi Badrun? Budek kok dipiara yaa…?!?!”

 “Heran amat yah, latihan vocal kok di terik matahari yang menggantang. Benar-benar kurang kerjaan, ”Batin Edu menyadari asal suara itu dari atas atap rumah. Ah, benar saja. Ada tangga kayu yang bersandar diam di tembok samping saat dirinya kemudian tergelitik untuk……

Edu berjingkat menaiki satu demi satu anak tangga. Senyumnya dikulum. Ditahan supaya sabar agar tidak lekas melebar sebelum kejutannya mendapatkan reaksi sepadan.

”Ta-daaa… !!! Bantuan datang! Ada yang perlu digendong-kah… ??!, ”Katanya spontan dengan mata berkerjap riang dan senyum yang lepas kesabaran. Mengembang dengan sempurna, namun sayang, minus respon yang berimbang.

Edu menyipitkan matanya yang buta sesaat karena silau oleh sinar matahari. Tangan kanannya setengah gemetar. Erat mencengkeram ujung tangga yang bergoyang menahan bobot tubuhnya. Sedang yang kiri, diupayakan sebagai kanopi yang melindungi dari terik yang mencubit kulit ari.

“Maaf, anda siapa ya? Aku panggil Badrun, kok yang datang sales obat? Minggir… minggir!”

Tergesa Edu menuruni tangga. Karena si Tukang Genteng itu tanpa ba-bi-bu lantas menendangkan kaki sekaligus bokongnya tepat di wajahnya yang masih sibuk menangkis silau dan teriknya matahari.

Dari kantong jubahnya, Edu mengeluarkan sehelai selampe. Disodorkannya pada si Tukang Genteng yang lantas menerimanya… dengan tatapan mata pedang dan cibiran sinis. Bukan senyum manis teriring ucapan terima kasih seperti yang diharapkannya.

”Wedeuw… juteknya masih belum sembuh, ternyata ! Sendal-selen!, “Batin Edu merutuk gemas.
                                                                                              
Dengan mimik tak peduli, si Tukang Genteng itu mencabut kalung handuk yang melingkari punuk lehernya. Handuk lusuh berwarna lavender buluk. Dua kali usapan, dan keringlah lubang pori-pori yang mengucurkan keringat di seluruh wajahnya. Tak jauh darinya, tangan Edu masih menggantung. Setia menunggu sapu tangannya yang tak kunjung dijemput…

“Nenek yang menelepon dokter Edu, Neng. Si Badrun hapenya kagak nyaut. Mungkin baterenya habis, ape ketiduran di poskamling tau deh, “nenek Salima datang dengan langkah tertatih. Bunyi tongkatnya sangat berirama dengan sandal kayu berpaku-paku. Tak… tok… tak… tok…tak…tok…

Edu bergegas menolongnya duduk di sebuah kursi rotan. Disenderkannya tongkat kepala naga, tak jauh dari tulang sandaran tangan.

“Jadwal nenek check-up kan masih seminggu lagi… , “Tukang genteng yang dipanggil ‘neng’ oleh nenek Salima sibuk membasuh tangan. Berdiri membelakangi dengan punggung yang seolah mewakilinya sebagai lawan bicara.

“Cepetan, gulung lenganmu itu! Biar nak Edu bisa memeriksa lebam yang sudah seminggu kamu piara, disayang-sayang macem mangga diperem!”

“Aah…, Nenek! Aku ngga pa-pa kok!”

 “Tolong ya nak Edu…, ”nenek Salima cukup melempar senyum bijaknya, sebagai perintah tersirat bagi Edu yang ternyata sudah bersiap diri, kemudian setengah berlari menghampiri pemilik punggung berkemeja kotak-kotak hijau tahi kerbau itu. Gembira pada titah yang dinanti akhirnya tiba juga.

”Auww…!!! Edudul sakit tauk ! Pelan-pelan dong… Napsu amat sih loe !”

“Neng! Yang sopan dong-ah! Edudul-edudul…?! Pantes juga enggak… Gitu kok ngaku cucuku!, ”nenek Salima mengayunkan ujung tongkatnya, dan… tok ! sukses mendarat di jidat sang cucu.

“Nenek ngga tahu aja! Dia juga manggil aku… Beni! Sabeni ! Bendot ! Bendekil ! Dan entah apalagi, tauk!”

Lah, itu mah memang pantas, kan? Kalau maumu dipanggil Bening… mustinya tingkah lakumu itu ya berubah dong !”

Edu hanya senyam-senyum saja mendengar ‘debat parlemen’ antara dua kubu seteru yang baginya amat seru dan senantiasa membuncahkan rindu. Tangannya dengan terampil mengoleskan oint ment ke setiap senti lebam biru yang sudah sangat kelabu di sepanjang lengan Bening, si Tukang Genteng itu.

Ketika jarinya hendak menyentuh jidat yang sedikit memerah karena antukan tongkat nenek Salima, matanya bertubrukan dengan mata Bening yang tengah mendelik dengan telaganya yang sungguh sangat bening.

“Apa-a-aa…?!, “Kata Bening dengan geram. Ngga usah deh ya?! Bilang aja kamu mau pegang-pegang jidatku!

“Ni-i-i-n-ngg……, “nenek Salima menggeleng-gelengkan kepalanya.

Edu tersenyum santai. Usai membereskan peralatannya, Edu berpamitan. Tak lupa diteguknya teh hasil seduhan Bening, hingga tuntas tak bersisa. Hmm… tidak berubah, masih seenak dulu. Edu membatin.

Rumah besar itu terliaht sudah sangat rapuh. Ukiran kepala kijang yang dulu menghiasi beranda depan sudah tidak ada. Beberapa tiang saka sudah dipenuhi pahatan rayap dan koloninya. Namun dengan kesanggupannya melawan waktu, tak disangkal itu adalah berkat tangan ringan Bening yang lebih terampil dari Badrun sekalipun. Situasi dan kondisi yang mendesak selalu menciptakan pertahanan diri yang menakjubkan.

Di setiap sudut rumah dan halaman, jelas terlihat jejak ketangguhan Bening. Bahkan semua tanaman yang seingatnya sudah ada sejak masa kecilnya dulu, masih utuh dengan perawatan sempurna.

Ah… sudah berapa lama yaa aku pergi meninggalkan kota kecil ini? Tujuh tahun. Yaa, tujuh tahun sejak ayah memaksaku emigrasi ke Kanada, karena seorang perempuan cantik berkulit pucat, pegawai sebuah badan dunia, yang kini dipanggilnya mama.

Baiklah… Cukup untuk hari ini. Awal yang lumayan. Sangat tidak mengecewakan. Apalagi dengan keramahan nenek yang tidak berubah, dan seraut wajah yang masih sama bening seperti tujuh tahun silam. Bening seperti pemiliknya yang bernama, Bening.

Edu mengakhiri perbincangan batinnya dengan senyum kecil. Perlahan ditutupnya pagar kayu bercat putih sebatas betis yang memisahkan halaman rumah dengan jalan utama. Lalu melangkah dengan mantap dengan harapan tinggi yang dibangkitkannya sendiri. Seminggu lagi telepon di ruang prakteknya akan berdering dan memintanya berkunjung kembali.

•♥•♥•

Bingkai jendela itu… Dengan kain horden yang warna coklatnya sudah nyaris peach karena termakan usia, tersingkap sedikit. Memberi celah sempit bagi dua pasang mata yang dalam diamnya mengantar kepergian Edu…

Dua pasang mata milik…

Bening


•♥•♥••♥•♥•

No comments:

Post a Comment