[sumber gambar: pinjam dari Appunti]
•♥•♥•
“Apa kabar,
Nek?! Sehatkah?, “Edu membungkukkan badannya, lembut diciumnya punggung tangan
nenek Salima yang kulitnya telah lama kehilangan elastisitas.
“Nenek sehat,
Alhamdulillah, nak Edu. Yang sakit itu tuh,
orang yang mengaku tidak pernah merasa sakit... “Nenek Salima menunjukkan arah
belakang rumahnya dengan bibir bergincu sirih dan pinang.
Edu
celingak-celinguk di halaman belakang. Yang nampak hanya aneka tanaman apotek
hidup yang dipagari gerumbul perdu yang terpangkas rapi. Mereka adalah sereh,
kumis kucing, curcuma, ginger, lengkuas. Di depannya berbaris lidah-lidah hijau
yang tepiannya beronak, aloe vera. Di samping kiri ada pohon jambu biji, pohon salam, dan
sambiloto. Di sudut kanan ada perdu dengan bunyanya yang berkelopak kecil-kecil
berwarna putih cantik dengan keharuman khas tiada dua, apalagi namanya kalau
bukan, melati. Sungguh apotek hidup
yang lengkap, tumbuh subur bebas merdeka. Tidak mungkin nenek Salima, ini pasti
hasil kerja keras sepasang tangan dingin milik…… Kemana sih sebenarnya, si
pasien? Sendal selen!
“Ben…! Bendot Bendekil…!, ”Edu berteriak memanggil pasien
yang direkomendasikan nenek. “Sepi
kok, padahal kata nenek di belakang? Sendal selen!
Kemana sih mahluk ngga jelas gender-nya
itu? Neneknya bilang dia sakit. Mengapa tak nampak ujung hidungnya pun?”
Tiba-tiba
sebuah genteng meluncur bebas dari atas atap rumah. Edu sigap melompat.
Berkelit dengan jurus kobra sakti menggayuh bulan purnama merah jingga.
Ciaatt…!! Hop! Nyaris saja kepalanya menjadi landasan luncur genteng tak
bertuan itu.
“Sapa tuh di
bawah?! Ada orang?!, “Sebuah suara terdengar melengking nyaring. Soprano
dramatik.
“Badrun…!!
Kaukah itu…?! Cepetan naik mariii…!!! Bantuian aku… !!!, ”Ambitus
soprano-nya semakin tinggi. Ditambah falsetto-mblero
akibatkan kerja uvula yang kelewat
dipaksakan. Sember dan terjepit. Sebentar lagi, pasti disusul batuk-batuk
kecil…
”Uhuk…huk…huks !
Drun, Badrun… ! Pantes da-ah, nama loe Budi Badrun? Budek kok dipiara yaa…?!?!”
“Heran amat yah, latihan vocal kok di terik
matahari yang menggantang. Benar-benar kurang kerjaan, ”Batin Edu menyadari
asal suara itu dari atas atap rumah. Ah, benar saja. Ada tangga kayu yang
bersandar diam di tembok samping saat dirinya kemudian tergelitik untuk……
Edu berjingkat menaiki satu demi satu anak tangga. Senyumnya dikulum.
Ditahan supaya sabar agar tidak lekas melebar sebelum kejutannya mendapatkan
reaksi sepadan.
”Ta-daaa… !!! Bantuan datang! Ada yang perlu digendong-kah… ??!, ”Katanya
spontan dengan mata berkerjap riang dan senyum yang lepas kesabaran. Mengembang
dengan sempurna, namun sayang, minus respon yang berimbang.
Edu menyipitkan matanya yang buta sesaat karena silau oleh sinar matahari. Tangan kanannya setengah gemetar. Erat mencengkeram ujung tangga
yang bergoyang menahan bobot tubuhnya. Sedang yang kiri, diupayakan sebagai
kanopi yang melindungi dari terik yang mencubit kulit ari.
“Maaf, anda
siapa ya? Aku panggil Badrun, kok yang datang sales obat? Minggir… minggir!”
Tergesa Edu menuruni
tangga. Karena si Tukang Genteng itu tanpa ba-bi-bu lantas menendangkan kaki
sekaligus bokongnya tepat di wajahnya yang masih sibuk menangkis silau dan
teriknya matahari.
Dari kantong jubahnya, Edu mengeluarkan sehelai selampe. Disodorkannya pada si Tukang Genteng yang lantas
menerimanya… dengan tatapan mata pedang dan cibiran sinis. Bukan senyum manis
teriring ucapan terima kasih seperti yang diharapkannya.
”Wedeuw…
juteknya masih belum sembuh, ternyata ! Sendal-selen!, “Batin Edu merutuk
gemas.
Dengan mimik
tak peduli, si Tukang Genteng itu mencabut kalung handuk yang melingkari punuk
lehernya. Handuk lusuh berwarna lavender buluk.
Dua kali usapan, dan keringlah lubang pori-pori yang mengucurkan keringat di
seluruh wajahnya. Tak jauh darinya, tangan Edu masih menggantung. Setia
menunggu sapu tangannya yang tak kunjung dijemput…
“Nenek yang
menelepon dokter Edu, Neng. Si Badrun hapenya kagak nyaut. Mungkin baterenya habis, ape ketiduran di poskamling tau deh, “nenek Salima datang dengan
langkah tertatih. Bunyi tongkatnya sangat berirama dengan sandal kayu
berpaku-paku. Tak… tok… tak… tok…tak…tok…
Edu bergegas menolongnya duduk di sebuah kursi rotan. Disenderkannya
tongkat kepala naga, tak jauh dari tulang sandaran tangan.
“Jadwal nenek check-up kan masih seminggu lagi… , “Tukang
genteng yang dipanggil ‘neng’ oleh
nenek Salima sibuk membasuh tangan. Berdiri membelakangi dengan punggung yang seolah
mewakilinya sebagai lawan bicara.
“Cepetan, gulung lenganmu itu! Biar nak Edu bisa memeriksa lebam yang sudah
seminggu kamu piara, disayang-sayang macem mangga diperem!”
“Aah…, Nenek! Aku ngga pa-pa kok!”
“Tolong ya nak Edu…, ”nenek Salima
cukup melempar senyum bijaknya, sebagai perintah tersirat bagi Edu yang
ternyata sudah bersiap diri, kemudian setengah berlari menghampiri pemilik
punggung berkemeja kotak-kotak hijau tahi kerbau itu. Gembira pada titah yang
dinanti akhirnya tiba juga.
”Auww…!!! Edudul sakit tauk ! Pelan-pelan dong… Napsu amat sih loe !”
“Neng!
Yang sopan dong-ah! Edudul-edudul…?! Pantes juga enggak… Gitu kok ngaku cucuku!, ”nenek Salima
mengayunkan ujung tongkatnya, dan… tok ! sukses mendarat di jidat sang
cucu.
“Nenek ngga tahu aja! Dia juga manggil aku… Beni! Sabeni !
Bendot ! Bendekil ! Dan entah apalagi, tauk!”
”Lah, itu mah memang pantas, kan? Kalau
maumu dipanggil Bening… mustinya tingkah lakumu itu ya berubah dong !”
Edu hanya
senyam-senyum saja mendengar ‘debat parlemen’ antara dua kubu seteru yang
baginya amat seru dan senantiasa membuncahkan rindu. Tangannya dengan terampil
mengoleskan oint ment ke setiap senti
lebam biru yang sudah sangat kelabu di sepanjang lengan Bening, si Tukang
Genteng itu.
Ketika
jarinya hendak menyentuh jidat yang sedikit memerah karena antukan tongkat
nenek Salima, matanya bertubrukan dengan mata Bening yang tengah mendelik
dengan telaganya yang sungguh sangat bening.
“Apa-a-aa…?!,
“Kata Bening dengan geram. Ngga usah deh ya?! Bilang aja kamu mau pegang-pegang
jidatku!
“Ni-i-i-n-ngg……,
“nenek Salima menggeleng-gelengkan kepalanya.
Edu tersenyum santai. Usai membereskan peralatannya, Edu berpamitan. Tak lupa diteguknya teh hasil seduhan Bening, hingga tuntas tak
bersisa. Hmm… tidak berubah, masih seenak dulu. Edu membatin.
Rumah besar
itu terliaht sudah sangat rapuh. Ukiran kepala kijang yang dulu menghiasi
beranda depan sudah tidak ada. Beberapa tiang saka sudah dipenuhi pahatan rayap
dan koloninya. Namun dengan kesanggupannya melawan waktu, tak disangkal itu
adalah berkat tangan ringan Bening yang lebih terampil dari Badrun sekalipun. Situasi dan kondisi yang mendesak selalu
menciptakan pertahanan diri yang menakjubkan.
Di setiap
sudut rumah dan halaman, jelas terlihat jejak ketangguhan Bening. Bahkan semua
tanaman yang seingatnya sudah ada sejak masa kecilnya dulu, masih utuh dengan
perawatan sempurna.
Ah… sudah
berapa lama yaa aku pergi meninggalkan kota kecil ini? Tujuh tahun. Yaa, tujuh
tahun sejak ayah memaksaku emigrasi ke Kanada, karena seorang perempuan cantik
berkulit pucat, pegawai sebuah badan dunia, yang kini dipanggilnya mama.
Baiklah… Cukup
untuk hari ini. Awal yang lumayan. Sangat tidak mengecewakan. Apalagi dengan
keramahan nenek yang tidak berubah, dan seraut wajah yang masih sama bening
seperti tujuh tahun silam. Bening seperti pemiliknya yang bernama, Bening.
Edu
mengakhiri perbincangan batinnya dengan senyum kecil. Perlahan ditutupnya pagar
kayu bercat putih sebatas betis yang memisahkan halaman rumah dengan jalan
utama. Lalu melangkah dengan mantap dengan harapan tinggi yang dibangkitkannya
sendiri. Seminggu lagi telepon di ruang prakteknya akan berdering dan
memintanya berkunjung kembali.
•♥•♥•
Bingkai
jendela itu… Dengan kain horden yang warna coklatnya sudah nyaris peach karena termakan usia, tersingkap
sedikit. Memberi celah sempit bagi dua pasang mata yang dalam diamnya mengantar
kepergian Edu…
Dua pasang
mata milik…
Bening
•♥•♥••♥•♥•

No comments:
Post a Comment