[mi mommy: dokpri]
|..|
sungguh kau tak perlu tahu
…betapa dalam cinta yang sekian
lama kuperam
…betapa besar kekaguman yang takkan
lekang sekuat apapun itu pengekang …betapa tinggi hormat yang kujunjung walau
rendah kudipandang orang
…betapakan terus kuupayakan doa
yang sempulur ntukmu seorang
yang kau perlu tahu
…bahwa tak pernah sekalipun kusesali
takdir sebagai anakmu
, andaikan kehidupan ini akan
berulang, berulang dan berulang lagi, maka pilihanku hanyalah pada rahim kau!
sebagai sebab hadirku di sini
dan yang harus kau tahu
…bahwa ada borok sesal yang
hingga hari ini masihku berkubang di
dalamnya dan kuyakin itu takkan pernah berakhir, pada setiap
, muka masamku
, kekerasan hatiku
, mudahnya aku tersinggung
, malasnya aku dengan perintahmu
, muaknya aku pada aturanmu
, geramnya aku pada kata ‘jangan’
dan stempel ‘terlarang’ khas dirimu
, sulitnya aku menerima nasehatmu
, lelahnya aku pada segala
anjuranmu
, dan ketidakmampuanku ‘menjadikan
segalanya’ mudah bagimu
sedang yang harus kau garis bawahi
… adalah betapa tak terkatakan
rasa syukurku
, terlahir dari rahimmu
, dan menjadi yang dititipkan
[sungguh, walau memang sempat kusalahkan kau,
namun cepat kusadari bahwa situasi dan kondisi yang memaksamu itulah justru yang
telah memperkayaku. Kau tak pernah salah dengan keputusan di masa lalu. Itu
sesuatu yang kini amat kusyukuri… Itulah hari penentu bagi kelangsungan
hidupku. Kalau tak ada hari itu, hari dimana kau paksa-lepaskan aku dari dekap-kasihmu,
maka tak akan pernah ada aku yang sekarang ini dengan kemampuan bertahan yang
kadang membuatku takjub sendiri, dan mungkin tak akan ada kenangan hebat tentangmu
hinggaku terus mengkultuskan dirimu dengan doa disertai pengharapan yang
tertuju hanya kepadamu. Jadi, jangan pernah menyesali keputusanmu, hentikanlah rasa
bersalah, dan kumohon… bercerailah sekarang juga dengan segala caci makimu pada
masa lalu].
lalu yang sebaiknya kau ingat
…adalah aku yang sangat bangga padamu yang tak berpikir dua kali tuk lepas
selendang harga diri dan menukarnya dengan celemek sahaya
, bahwa segala hedoni yang tak sudi menghampiri, bukanlah penghalang
untukku memperkaya diri
, bahwa akan kulepas jiwa saat itu juga, andai kau tuntut kembali ruh yang
telah kau gadaikan ini kepadaku, ingatlah itu, Ibu, sebab kaulah tuhanku di
dunia
sedangkan, bila kuperoleh ijin darimu tuk menyampaikan
apa yang kumau darimu,
…adalah banjiri hatimu dengan cinta, walau tulang belikat itu mungkin
dipasangkan secara paksa
…selubungi bibir cantikmu dengan muhasabah, walau tiang di rumah itu
selalunya rapuh seperti pelepah
…taburi la’ilmu dengan maaf yang berlimpah dan ikhlas yang luas, pada
kelana yang telah diutusNya ‘ntuk taburkan benih di ladang suburmu itu, sebab tanpanya
takkan pernah ada kami, si pancuran kapit sendang sebutan yang kau gadang-gadang
terakhir yang kuharap darimu,
…adalah tanamkan dalam lembah pemikiran dan paksakan bila perlu,
, bahwa peluh yang kau kumpulkan telah ditukar dengan kami,
, airmata yang kau tumpahkan telah berubah wujud menjadi kami,
, derita yang kau sandang sekian lama ini telah dituai pada diri kami,
, harga diri yang kau lempar telah berbunga menjadi kami,
, bahwa tak ada yang sia-sia dari jalur luka memanjang di paruh hidupmu
dengan adanya kami…
duhai kau, yang telapak kakimu sanggup kuciumi dan akan kubasuh
lima kali sehari dengan airmata suci…
…telah lama kusadari, kupahami, kumaklumi, walau tak mungkin kusampaikan
secara terbuka karena mafhum pada sifatmu yang tiada dua… , bahwa hanya dengan
puisi tak bermakna ini sajalah kiranya dapat kusampaikan segenap isi hati,
, bahwa hidup adalah tentang pilihan, namun dapat kupastikan tak akan jatuh
sebuah pilihan walau kau begitu mulia hingga surga sepantasnya menjadi jejak
kakimu, bahkan ketika tiang keropos itu mungkin sepantasnya mubah dijarah rayap
, bahwa tiang rapuh itu setia mendampingi dan terus berupaya tegak berdiri,
lihat dan tataplah tanpa henti, bukankah ia tak bergeser sesenti dan tetap ada
disisimu sekian lama ini ?
, bahwa banyak kekurangannya sungguh bukan kesalahannya, tak pernah
menjadi kemauannya, mustahil juga pilihannya, itu takdir yang tak mampu dia
ubah dan harus kau terima dengan hati membenua...
, bahwa mata, hati, cintanya tak pernah tergerus luka dan terus tertuju hanya
padamu, tak pernah setitikpun terbersit ‘ntuk berpaling walau sekeras apapun
kau kepadanya, sebenci apapun kau terhadapnya, seburuk apapun kau memperlakukan
keluarganya, sekeji apapun kutukanmu untuknya, sedingin apapun hati yang kau
persembahkan kepadanya, setawar apapun cinta yang semestinya hangat baginya,
, bahwa aku sangat percaya, kau dan tulang belikatmu itu adalah pasangan
sempurna, panci dan tutupnya, mur dan bautnya, anak kancing dan lubangnya, sepasang
yang berjodoh atas ridha Allah agar kami ada untuk memanggilmu ; ibu,
bapak
Itu sajalah,
…yang kumau kau tahu, Bu

No comments:
Post a Comment