Wednesday, December 19, 2012

Wifey Wolfey



[http://beta.photobucket.com/]

~,~

Angin berhembus kencang...

Dreukk…! Dreukk…! Tapal besinya berderap-derap saat beradu dengan jalan setapak tak beraspal. Kerakal-kerikil melesat berlompatan. Hindari injakan dan sepak terompah logamnya yang mematikan. Keheningan malam itu terkoyak oleh ringkik yang menjerit-jerit menuntut kelapangan jalan bagi ketergesaannya yang pantang dihalang.

Kalong-kalong penghisap darah segar mempercepat kepak sayapnya. Membran tipisnya mampu membuatnya menyingkir gesit, bila tak ingin spesies mustang itu sampai lebih dulu. Di belakangnya bergerombol bayang hitam terbang membuntuti. Mereka sepasukan kokok beluk dan berkoloni mahluk malam yang tak sudi kalah cepat juga.

Semuanya berpacu. Saling memburu. Saling dulu mendului. Bertarung mengejar rase bulat sebesar tampah yang bertengger pongah dan lambat merangkak. Bias kuning dan jingganya yang meradang garang, nampak perkasa menggagahi pekatnya horizon tengah malam.

Waktu bergulir terbirit. Mendekati panggilan spirit. Mustang hitam berjuluk Kyai Rangga melesat cepat. Berlalu tanpa ragu, terus berburu waktu. Keempat kakinya yang sekokoh makam fir’aun bergerak seirama merobek gelapnya malam. Ada titah yang diembannya. Ada upeti yang harus segera diurapi. Ada sosok sekarat di punggungnya yang harus segera dihantar. Dipandu rase yang tengah purnama, dan bukit gundul itulah tujuannya.

“Cepatlah Kyai…“

Serak parau, terdengar rintihan si raga sekarat. Kawung nagasari tak mampu selubungi lekuk indahnya. Erat membalut tubuh lemahnya yang tertelungkup menjuntai. Berkibar bersama gelung rambutnya yang telah lama terurai. Bergoyang melambai. Mengikuti laju keempat kaki sang Kyai yang bermarathon bersama angin.

”Hyang Kala akan segera tiba. Waktunya takkan lama lagi. Cepatlah Kyai… Cepat ! Sebelum purnama utuh sempurna… Sebelum purna kemegahan jingganya…”

Kyai Rangga menjawab dengan ringkikkannya yang melengking tinggi. Dan hanya sekedip mata, tanjakan curam terjal itu dicapainya. Belum pun helaan nafas rehat, Kyai Rangga sigap menekuk lutut dua kaki depannya. Bersimpuh selaiknya abdi. Joki tak bertenaga itu pun turun menggelosor. Tergolek pasrah di atas hamparan tanah gersang.

Kyai meringkik lagi. Kali ini dengan ritme memilukan hati. Kepiluan yang bangkitkan suara-suara alam dan para penghuninya yang rapi bersembunyi. Berlindung di balik kegelapan malam. Ataukah berkamuflase dan menyamarkan jati diri. Suara mereka saja yang terdengar saling bersahutan. Bertegur sapa. Bertukar salam dan penghormatan. Menyambut kedatangan Kyai dan penumpangnya yang separuh mati…

Dan ketika purnama tepat mengarah kepadanya. Dalam satu garis lurus yang menyilaukan mata. Perlahan tubuh lemah itu mengangkat dirinya sendiri. Entah darimana datangnya dua kekuatan besar yang saling sambar. Petir dan kilat itu melebur diri. Bersatu dalam kekuatan yang melambungkannya. Kyai pun tak henti meringkik. Berkali berdiri dengan hanya dua kaki belakang. Surainya terus pun berkibar.

Raga yang kehilangan separuh nyawa, melayang tiga depa di atas bukit gundul. Pepohonan yang meranggas berderak-derak. Tanah gersang pun turut retak. Sekumpulan spirit saling tabrak. Menghentak. Rakus memperebutkan raga yang menolak bercerai dengan sukma.

Raga itu berputar-putar. Laksana mainan gasing yang terpelanting saat dibanting. Gelung rambutnya yang terurai, perlahan memutih hingga lenyap semula warnanya. Kelopak matanya yang rapat terpejam, melambat terbuka lebar. Bersinar merah menyala, hilang kehitaman bola matanya. Bibirnya yang penuh dan mengundang selera, robek seketika. Berubah menjadi semacam moncong bergigi tonggos-mrongos. Dua lengkungan taring mencuat dari sudut-sudut yang tak henti teteskan liur hitam kental. Dari punggungnya keluar onak-onak raksasa, disertai erang kesakitan yang menyayat hati. Tulang ekornya terus saja memanjang. Baru terhenti, di akhir yang meruncing, seperti capit kalajengking.

Di setiap penjuru bukit gundul, lolongan anjing dan serigala menukik tinggi, sahut-menyahut. Paduan suara alam yang fenomenal. Itulah salam takzim bagi wujud yang tengah berjuang menerima perubahan dirinya yang amat dramatis spektakuler imajiner.

Kyai Rangga duduk bersimpuh, tundukkan keempat kakinya. Dalam lelah dan kesedihannya, matanya terpejam mengenang keseharian Nyonya yang baik budi lembut hati. Namun di setiap purnama harus pergi. Diiringi tangis pilu suami. Memohon Nyonya segera kembali. Usai purnama yang mengharuskannya transformasi. Mengubah wujud entah setan ataukah peri. Untuk kembali sebagai seorang istri. Sang Garwa padmi

”Duh Kanjeng Kyai…”

Angin kembali membisikkan namanya. Yang disebut dengan rintih pilu dan runtuhnya harga diri lelaki. Memohon kepadanya demi sang Garwa, sigaraning nyawa, yang dicinta dan dipuja.

“Kyai… Kyai…, Kyai Turangga Krishna ingkang ndalem tresnani manah lan ati, cepatlah hantar Nyonya ke griya lamanya. Terbanglah dengan empat kakimu itu. Jaga Nyonya hingga purnama puas melumatnya. Kembalikan ia kepadaku, usai kecantikan hatinya, ketulusan budinya, mengubahnya kembali menjadi dinda bestari, istri yang kucintai dengan sepenuh hati…

Angin terus gemerisik berbisik. Kian lama kian berisik. Dan mustang hitam itu, Kyai Turangga Krishna, terus berlari. Purnama bukan lagi pemandunya. Rase jingga bukan lagi dian penunjuk jalan. Namun pesan Tuanlah yang menggiringnya pulang. Kembali ke perkampungan. Rumah bagi sepasang suami-istri. Yang bersatu hiraukan batasan. Antara manusia dan siluman…

■■■

No comments:

Post a Comment