[http://beta.photobucket.com/]
~,~
Angin
berhembus kencang...
Dreukk…!
Dreukk…! Tapal besinya berderap-derap saat beradu dengan jalan setapak tak beraspal.
Kerakal-kerikil melesat berlompatan. Hindari injakan dan sepak terompah
logamnya yang mematikan. Keheningan malam itu terkoyak oleh ringkik yang
menjerit-jerit menuntut kelapangan jalan bagi ketergesaannya yang pantang
dihalang.
Kalong-kalong penghisap
darah segar mempercepat kepak sayapnya. Membran tipisnya mampu membuatnya menyingkir
gesit, bila tak ingin spesies mustang
itu sampai lebih dulu. Di belakangnya bergerombol bayang hitam terbang membuntuti.
Mereka sepasukan kokok beluk dan berkoloni
mahluk malam yang tak sudi kalah cepat juga.
Semuanya berpacu. Saling memburu. Saling dulu
mendului. Bertarung mengejar rase bulat sebesar tampah yang bertengger pongah dan lambat merangkak. Bias kuning dan
jingganya yang meradang garang, nampak perkasa menggagahi pekatnya horizon
tengah malam.
Waktu bergulir terbirit. Mendekati panggilan spirit.
Mustang hitam berjuluk Kyai Rangga melesat cepat. Berlalu
tanpa ragu, terus berburu waktu. Keempat kakinya yang sekokoh makam fir’aun
bergerak seirama merobek gelapnya malam. Ada titah yang diembannya. Ada upeti
yang harus segera diurapi. Ada sosok sekarat di punggungnya yang harus segera
dihantar. Dipandu rase yang tengah purnama, dan bukit gundul itulah tujuannya.
“Cepatlah Kyai…“
Serak parau, terdengar rintihan si raga sekarat. Kawung nagasari tak mampu selubungi lekuk indahnya. Erat membalut tubuh lemahnya
yang tertelungkup menjuntai. Berkibar bersama gelung rambutnya yang telah lama
terurai. Bergoyang melambai. Mengikuti laju keempat kaki sang Kyai yang
bermarathon bersama angin.
”Hyang Kala akan segera tiba. Waktunya takkan lama
lagi. Cepatlah Kyai… Cepat ! Sebelum purnama utuh sempurna… Sebelum purna kemegahan
jingganya…”
Kyai
Rangga menjawab dengan ringkikkannya yang melengking tinggi. Dan hanya sekedip
mata, tanjakan curam terjal itu dicapainya. Belum pun helaan nafas rehat, Kyai
Rangga sigap menekuk lutut dua kaki depannya. Bersimpuh selaiknya abdi. Joki tak bertenaga itu
pun turun menggelosor. Tergolek pasrah di atas hamparan
tanah gersang.
Kyai
meringkik lagi. Kali ini dengan ritme memilukan hati. Kepiluan yang bangkitkan
suara-suara alam dan para penghuninya yang rapi bersembunyi. Berlindung di
balik kegelapan malam. Ataukah berkamuflase dan menyamarkan jati diri. Suara
mereka saja yang terdengar saling bersahutan. Bertegur sapa. Bertukar salam dan
penghormatan. Menyambut kedatangan Kyai dan penumpangnya yang separuh mati…
Dan
ketika purnama tepat mengarah kepadanya. Dalam satu garis lurus yang
menyilaukan mata. Perlahan tubuh lemah itu mengangkat dirinya sendiri. Entah
darimana datangnya dua kekuatan besar yang saling sambar. Petir dan kilat itu melebur
diri. Bersatu dalam kekuatan yang melambungkannya. Kyai pun tak henti
meringkik. Berkali berdiri dengan hanya dua kaki belakang. Surainya terus pun
berkibar.
Raga
yang kehilangan separuh nyawa, melayang tiga depa di atas bukit gundul. Pepohonan
yang meranggas berderak-derak. Tanah gersang pun turut retak. Sekumpulan spirit
saling tabrak. Menghentak. Rakus memperebutkan raga yang menolak bercerai
dengan sukma.
Raga
itu berputar-putar. Laksana mainan gasing yang terpelanting saat dibanting. Gelung
rambutnya yang terurai, perlahan memutih hingga lenyap semula warnanya. Kelopak
matanya yang rapat terpejam, melambat terbuka lebar. Bersinar merah menyala,
hilang kehitaman bola matanya. Bibirnya yang penuh dan mengundang selera, robek
seketika. Berubah menjadi semacam moncong bergigi tonggos-mrongos. Dua lengkungan taring mencuat dari sudut-sudut yang tak
henti teteskan liur hitam kental. Dari punggungnya keluar onak-onak raksasa,
disertai erang kesakitan yang menyayat hati. Tulang ekornya terus saja
memanjang. Baru terhenti, di akhir yang meruncing, seperti capit kalajengking.
Di setiap penjuru bukit gundul, lolongan anjing dan serigala menukik
tinggi, sahut-menyahut. Paduan suara alam yang fenomenal. Itulah salam takzim
bagi wujud yang tengah berjuang menerima perubahan dirinya yang amat dramatis
spektakuler imajiner.
Kyai Rangga duduk bersimpuh, tundukkan keempat kakinya. Dalam lelah
dan kesedihannya, matanya terpejam mengenang keseharian Nyonya yang baik budi
lembut hati. Namun di setiap purnama harus pergi. Diiringi tangis pilu suami.
Memohon Nyonya segera kembali. Usai purnama yang mengharuskannya transformasi.
Mengubah wujud entah setan ataukah peri. Untuk kembali sebagai seorang istri.
Sang Garwa padmi…
”Duh Kanjeng Kyai…”
Angin
kembali membisikkan namanya. Yang disebut dengan rintih pilu dan runtuhnya
harga diri lelaki. Memohon kepadanya demi sang Garwa, sigaraning nyawa, yang dicinta dan dipuja.
“Kyai… Kyai…, Kyai Turangga Krishna
ingkang ndalem tresnani manah lan ati, cepatlah hantar
Nyonya ke griya lamanya. Terbanglah dengan empat kakimu itu. Jaga Nyonya hingga
purnama puas melumatnya. Kembalikan ia kepadaku, usai kecantikan hatinya,
ketulusan budinya, mengubahnya kembali menjadi dinda bestari, istri yang
kucintai dengan sepenuh hati…”
Angin
terus gemerisik berbisik. Kian lama kian berisik. Dan mustang hitam itu, Kyai
Turangga Krishna, terus berlari. Purnama bukan lagi pemandunya. Rase jingga
bukan lagi dian penunjuk jalan. Namun pesan Tuanlah yang menggiringnya pulang. Kembali
ke perkampungan. Rumah bagi sepasang suami-istri. Yang bersatu hiraukan
batasan. Antara manusia dan siluman…
■■■

No comments:
Post a Comment