Tuesday, March 26, 2013

[Nuansa Bening-2] Rest In Cloud


[sumber gambar: pinjam dari Appunti]


•♥•♥•


“Masih sedih ya?”

Bocah lelaki itu mengangguk kecil. Lalu kepalanya ditundukkan dalam-dalam. Dari hidungnya mengalir dua anak sungai. Segera disekanya dengan ujung jas warna biru cerah.

“Sudahlah, jangan sedih, mama kamu pasti sudah di surga“

Si bocah lelaki terlihat beringsut mendekati temannya yang berambut sama pendek. Teman baru yang tak sengaja ditemui saat hendak melarikan kesedihannya. Teman yang semula dikira sesama lelaki, namun menyadari sedikit yang berbeda di dadanya, si bocah lelaki segera tahu, temannya ini seorang anak perempuan.

“Darimana kamu tahu mamaku sudah ada di surga ?, “Tanya si bocah lelaki.

Malu-malu, dia melirik temannya yang nampak asyik meremas tanah liat. Tangannya segera tertarik mencomot sedikit gumpalannya. Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk menjalin keakraban. Sejurus berlalu, keduanya sudah larut sibuk. Gemas meremas, bergelut saling memilin. Dan berbarislah beragam bentuk dari keliatan tanah yang lembut dan menurut patuh dalam kepalan sepasang tangan kecil yang tak peduli noda coklat bahkan sudah sampai ke leher dan ujung-ujung rambut.
                                                 
“Dari nenekku“

“Oh, kamu anak perempuan yang kemarin itu ya ? Yang datang sama nenek tua itu. Cuma kamu dan nenekmu yang bawa baskom ke gereja, “Kata si bocah lelaki. Ia terlihat menambah koloni bebek dan rupa-rupa bentuk binatang yang badan lempungnya sudah mulai kering. Di wajah polosnya tak ada lagi kesedihan yang semula hendak dilarungnya di tambak ini.

“Iya, itu aku“

“Apa isi baskom itu?, “Tanya si bocah lelaki lagi. Lelah berjongkok, dia jatuhkan pantat gempalnya di tepian tambak. Tak berpikir setelan jas dan celana panjangnya sudah penuh dengan tambahan warna coklat di sana-sini. Setempel alami dari keriangan yang ditemukan dalam keliatan yang menyenangkan.

“Beras sama uang sekedarnya, memang apalagi? Kata nenek, itulah tanda ikut berduka kepada keluarga yang ditinggalkan almarhum. Kami tidak punya uang lebih untuk beli bunga. Lagian bunga itu cepat layu. Kalau beras bisa ditanak. Uang bisa untuk beli lauk. Begitu kata nenek”

“Oh, begitu ya? Nama kamu siapa?, “Senyum si bocah lelaki tersungging manis. Di pucuk hidungnya yang kembang kempis bertengger setitik tanah liat. Sedang di kedua pipinya yang chubby, terlihat guratan coklat turut menghiasi.

“Masak tidak tahu namaku? Kamu orang baru ya?”

“Iya. Aku juga baru pernah main sejauh ini, “Jawab si bocah. Riak wajahnya menunjukkan kecemasan mendengar kata ‘orang baru’. Kekhawatiran akan ditinggalkan oleh teman barunya itu. Padahal baru saja ditemukan olehnya keasyikan bercakap-cakap sambil meremas-remas tanah liat. Berharap kesedihannya pun bisa ikut lumat.

“Namaku Bening…, bagus kan?”

“Oh, ternyata kamu! Hi hi hi, jadi yang sering dipanggil ‘Beling sing mbeling’ sama anak-anak itu ya?, “Bersemangat si bocah lelaki mendengarnya. Telah cukup lama didengarnya nama aneh itu. Kini keheranan atas nama ‘Beling sing mbeling’ terjawab sudah. Dia pikir, mengapa seseorang bisa dinamakan Beling? Sedang setahunya, kata beling bermakna sama dengan kaca. Dan ‘mbeling’? Bukankah itu berarti bandel? Beling yang bandel? Tak disangka…

“Apa? Beling sing mbeling? Dengar dari mana kamu?! B-E-N-I-N-G!..., “Si bocah perempuan yang dipanggil Bening itu, menjawab dengan bentuk protes di bibir mungilnya yang mengerucut. Masih dengan muka masam memberengut, dia meraih ranting dan menuliskan namanya di atas permukaan tanah hitam. B-e-n-i-n-g…

“Iya-iya… he he he, “Terkekeh si bocah lelaki mendengar protes si mbeling, ups… Bening.          
“Mengapa orang-orang bernyanyi di depan orang meninggal?“

Bening tak pedulikan tawa mengekeh temannya. Rasa ingin tahunya lebih besar dari sekedar menanggapi ledekan tak berarti. Pengalamannya kemarin masih membekas di benaknya yang cerdas. Tangannya masih sibuk menyiksa tanah liat yang sebagian meleber, melarikan diri di antara sela jari mungilnya.

“Itu lagu rohani. Itu pujian kepada Tuhan yang mengiringi kepergian mamaku. Juga agar mama tahu, bahwa kepergiannya tidak membuat kami larut dalam kesedihan, “Jawab tegas si bocah lelaki. Penuh kebanggaan, karena merasa telah berhasil sempurna mengulangi perkataan orang-orang dewasa, seperti di dengarnya kemarin.

“Oh… begitu. Sama dong. Waktu kakekku meninggal juga begitu. Orang-orang datang ke rumah. Berkumpul, lalu duduk bersimpuh. Kemudian bersahut-sahutan dalam membaca kitab suci. Kami menyebutnya selametan… eh bukan, tapi tahlilan!“

Bening cepat menutup mulutnya yang keliru menyebut. Tak menyadari sebagian noda coklat yang menyenangkan itu lantas berpindah ke permukaan pipinya. Dia tertawa tanpa beban, memamerkan barisan karies gigi susunya yang berwarna hitam.

Tawa yang seketika disusul tawa si bocah lelaki. Tawa yang berasal dari mulut yang berkaries sama hitam dan sebagian sudah tanggal. Tawa yang membuatnya lupa akan kesedihan dan kesepian karena kepergian mamanya beberapa hari yang telah silam.

“Kalau kau ingat mamamu, lihat saja patung ibu-ibu berkerudung yang menggendong bayi itu. Aku melihatnya kemarin. Ada di dinding gerejamu”

“Aah, itu patung Bunda Maria. Benar juga apa katamu, Bening. Kamu pintar! Diajarin ya sama nenekmu? Hayoh, ngaku aja…, “Si bocah lelaki mengulurkan bunga tanah liat yang dibentuknya. Bening menerimanya dengan suka cita.

“Bunda Maria?”

“Iya, Bunda Maria. Tapi kamu menyebutnya Siti Maryam, “Si bocah lelaki itu mengulurkan bunga tanah liat ketiga. Bening lantas meletakkannya di depan tanah liat yang dikepalnya memanjang seperti cacing.

“Kamu bikin apa, Bening? Cacing ya? Jangan diletakkan di situ! Nanti bunganya dimakan cacing loh?”

“Bukan cacing! Ini pintu gerbang rumah, makanya kutaruh bunga-bunganya di situ, “Bening menjawab polos sambil tangannya sibuk menata bunga-bunga tanah liat. “Kok kamu tahu Siti Maryam? “

“Tahu dong. Di sekolahku yang dulu, belum ada guru agama Katolik, jadi aku ikut pelajaran agama Islam. Boleh juga sih keluar dari kelas, misalnya ke perpustakaan, tapi di sana tidak banyak teman, jadi aku malas. Aku diijinkan tinggal di dalam kelas, asalkan tidak menganggu teman yang sedang belajar pelajaran agama Islam. Makanya aku tahu, Ning“

“Oh, begitu ya…,”

Bening nampak tak peduli dengan jawaban si bocah lelaki. Yang dilakukannya justru iseng menyentuh jidat temannya itu. Dan sontak terbahak melihat segenggam tanah liat berpindah tempat. Kemudian tergesa bangkit dari tempatnya bersimpuh, saat dilihat temannya nampak gemas meremas tanah liat dan bergegas hendak membalas.

Keduanya berlarian sepanjang pematang tambak. Dengan masing-masing tangan terkepal. Menyembunyikan gumpalan tanah liat. Lalu peluru-peluru lembek itu saling melesat, mencari targetnya. Tawa keduanya belum berhenti, meski menyadari kaus hijau dengan celana pendek merah yang dipakai Bening sudah total berubah warna. Sedang setelan jas dan celana panjang si Bocah lelaki, hilang warna cerah birunya.

“Lihat! Ada memedi sawah! Ha ha ha ha!

Bening terpingkal. Telunjuknya mengarah pada si bocah lelaki yang matanya kedap-kedip mengusir partikel kecil tanah liat yang nyasar masuk ke matanya.

“Enak saja! Kamu tuh! Kamu yang memedi sawah!, “Bocah lelaki itu tak mau kalah. Matanya masih sipit-sipit, mencari celah agar bisa melihat seteru yang telah mengubahnya menjadi hantu tanah liat.

Bening menggegam tangan si bocah lelaki. Menuntunnya ke belik, dimana ada pancuran bambu yang biasa dipakai nenek mencuci pantat periuk yang hitam pekat setelah bersetubuh dengan pawon.

“Hei! Jangan buka bajumu!“

Bening cepat mencengkeram tangan temannya itu. Menghalangi maksudnya membuka pakaian berupa setelan jas dan celana panjang.

“Bersihkan saja tanahnya dari bajumu itu, supaya nanti tidak sulit saat dicuci! Setelah itu, cepat sana… lari secepatnya ke rumahmu. Anak lelaki tidak boleh cengeng! Nanti kalau dimarahi ayahmu, jangan nangis! Sana-sana… cepat!“

Bening menolak tubuh temannya yang masih asyik menikmati guyuran air dari pancuran bambu. Dengan tertatih dititinya tangga batu yang semula mengantarnya ke belik. Dia harus segera kembali ke rumah, atau nenek akan cemas menantinya yang tak kunjung pulang.

“Eh iya. Siapa namamu?, “Tiba-tiba Bening berbalik arah.

Dari balik kucuran air yang deras menimpa wajahnya, dan mulutnya yang gelagapan menampung luapan air, si bocah lelaki menjawab, “Apa-a-a-a…?!?!”

“Nama kamu! Nama kamu siapa?, “Setengah berteriak Bening mengulang pertanyaannya.

“Edu…! Eduin Sindua! Panggil saja, Edu! E-D-U… !!”


•♥•♥••♥•♥•

[Nuansa Bening-1] Rest In Hope


[sumber gambar: pinjam dari Appunti]


•♥•♥•


“Apa kabar, Nek?! Sehatkah?, “Edu membungkukkan badannya, lembut diciumnya punggung tangan nenek Salima yang kulitnya telah lama kehilangan elastisitas.

“Nenek sehat, Alhamdulillah, nak Edu. Yang sakit itu tuh, orang yang mengaku tidak pernah merasa sakit... “Nenek Salima menunjukkan arah belakang rumahnya dengan bibir bergincu sirih dan pinang.

Edu celingak-celinguk di halaman belakang. Yang nampak hanya aneka tanaman apotek hidup yang dipagari gerumbul perdu yang terpangkas rapi. Mereka adalah sereh, kumis kucing, curcuma, ginger, lengkuas. Di depannya berbaris lidah-lidah hijau yang tepiannya beronak, aloe vera. Di samping kiri ada pohon jambu biji, pohon salam, dan sambiloto. Di sudut kanan ada perdu dengan bunyanya yang berkelopak kecil-kecil berwarna putih cantik dengan keharuman khas tiada dua, apalagi namanya kalau bukan, melati. Sungguh apotek hidup yang lengkap, tumbuh subur bebas merdeka. Tidak mungkin nenek Salima, ini pasti hasil kerja keras sepasang tangan dingin milik…… Kemana sih sebenarnya, si pasien? Sendal selen!

“Ben…! Bendot Bendekil…!, ”Edu berteriak memanggil pasien yang direkomendasikan nenek. “Sepi kok, padahal kata nenek di belakang? Sendal selen! Kemana sih mahluk ngga jelas gender-nya itu? Neneknya bilang dia sakit. Mengapa tak nampak ujung hidungnya pun?”

Tiba-tiba sebuah genteng meluncur bebas dari atas atap rumah. Edu sigap melompat. Berkelit dengan jurus kobra sakti menggayuh bulan purnama merah jingga. Ciaatt…!! Hop! Nyaris saja kepalanya menjadi landasan luncur genteng tak bertuan itu.

“Sapa tuh di bawah?! Ada orang?!, “Sebuah suara terdengar melengking nyaring. Soprano dramatik.

“Badrun…!! Kaukah itu…?! Cepetan naik mariii…!!! Bantuian aku… !!!, ”Ambitus soprano-nya semakin tinggi. Ditambah falsetto-mblero akibatkan kerja uvula yang kelewat dipaksakan. Sember dan terjepit. Sebentar lagi, pasti disusul batuk-batuk kecil…

”Uhuk…huk…huks ! Drun, Badrun… ! Pantes da-ah, nama loe Budi Badrun? Budek kok dipiara yaa…?!?!”

 “Heran amat yah, latihan vocal kok di terik matahari yang menggantang. Benar-benar kurang kerjaan, ”Batin Edu menyadari asal suara itu dari atas atap rumah. Ah, benar saja. Ada tangga kayu yang bersandar diam di tembok samping saat dirinya kemudian tergelitik untuk……

Edu berjingkat menaiki satu demi satu anak tangga. Senyumnya dikulum. Ditahan supaya sabar agar tidak lekas melebar sebelum kejutannya mendapatkan reaksi sepadan.

”Ta-daaa… !!! Bantuan datang! Ada yang perlu digendong-kah… ??!, ”Katanya spontan dengan mata berkerjap riang dan senyum yang lepas kesabaran. Mengembang dengan sempurna, namun sayang, minus respon yang berimbang.

Edu menyipitkan matanya yang buta sesaat karena silau oleh sinar matahari. Tangan kanannya setengah gemetar. Erat mencengkeram ujung tangga yang bergoyang menahan bobot tubuhnya. Sedang yang kiri, diupayakan sebagai kanopi yang melindungi dari terik yang mencubit kulit ari.

“Maaf, anda siapa ya? Aku panggil Badrun, kok yang datang sales obat? Minggir… minggir!”

Tergesa Edu menuruni tangga. Karena si Tukang Genteng itu tanpa ba-bi-bu lantas menendangkan kaki sekaligus bokongnya tepat di wajahnya yang masih sibuk menangkis silau dan teriknya matahari.

Dari kantong jubahnya, Edu mengeluarkan sehelai selampe. Disodorkannya pada si Tukang Genteng yang lantas menerimanya… dengan tatapan mata pedang dan cibiran sinis. Bukan senyum manis teriring ucapan terima kasih seperti yang diharapkannya.

”Wedeuw… juteknya masih belum sembuh, ternyata ! Sendal-selen!, “Batin Edu merutuk gemas.
                                                                                              
Dengan mimik tak peduli, si Tukang Genteng itu mencabut kalung handuk yang melingkari punuk lehernya. Handuk lusuh berwarna lavender buluk. Dua kali usapan, dan keringlah lubang pori-pori yang mengucurkan keringat di seluruh wajahnya. Tak jauh darinya, tangan Edu masih menggantung. Setia menunggu sapu tangannya yang tak kunjung dijemput…

“Nenek yang menelepon dokter Edu, Neng. Si Badrun hapenya kagak nyaut. Mungkin baterenya habis, ape ketiduran di poskamling tau deh, “nenek Salima datang dengan langkah tertatih. Bunyi tongkatnya sangat berirama dengan sandal kayu berpaku-paku. Tak… tok… tak… tok…tak…tok…

Edu bergegas menolongnya duduk di sebuah kursi rotan. Disenderkannya tongkat kepala naga, tak jauh dari tulang sandaran tangan.

“Jadwal nenek check-up kan masih seminggu lagi… , “Tukang genteng yang dipanggil ‘neng’ oleh nenek Salima sibuk membasuh tangan. Berdiri membelakangi dengan punggung yang seolah mewakilinya sebagai lawan bicara.

“Cepetan, gulung lenganmu itu! Biar nak Edu bisa memeriksa lebam yang sudah seminggu kamu piara, disayang-sayang macem mangga diperem!”

“Aah…, Nenek! Aku ngga pa-pa kok!”

 “Tolong ya nak Edu…, ”nenek Salima cukup melempar senyum bijaknya, sebagai perintah tersirat bagi Edu yang ternyata sudah bersiap diri, kemudian setengah berlari menghampiri pemilik punggung berkemeja kotak-kotak hijau tahi kerbau itu. Gembira pada titah yang dinanti akhirnya tiba juga.

”Auww…!!! Edudul sakit tauk ! Pelan-pelan dong… Napsu amat sih loe !”

“Neng! Yang sopan dong-ah! Edudul-edudul…?! Pantes juga enggak… Gitu kok ngaku cucuku!, ”nenek Salima mengayunkan ujung tongkatnya, dan… tok ! sukses mendarat di jidat sang cucu.

“Nenek ngga tahu aja! Dia juga manggil aku… Beni! Sabeni ! Bendot ! Bendekil ! Dan entah apalagi, tauk!”

Lah, itu mah memang pantas, kan? Kalau maumu dipanggil Bening… mustinya tingkah lakumu itu ya berubah dong !”

Edu hanya senyam-senyum saja mendengar ‘debat parlemen’ antara dua kubu seteru yang baginya amat seru dan senantiasa membuncahkan rindu. Tangannya dengan terampil mengoleskan oint ment ke setiap senti lebam biru yang sudah sangat kelabu di sepanjang lengan Bening, si Tukang Genteng itu.

Ketika jarinya hendak menyentuh jidat yang sedikit memerah karena antukan tongkat nenek Salima, matanya bertubrukan dengan mata Bening yang tengah mendelik dengan telaganya yang sungguh sangat bening.

“Apa-a-aa…?!, “Kata Bening dengan geram. Ngga usah deh ya?! Bilang aja kamu mau pegang-pegang jidatku!

“Ni-i-i-n-ngg……, “nenek Salima menggeleng-gelengkan kepalanya.

Edu tersenyum santai. Usai membereskan peralatannya, Edu berpamitan. Tak lupa diteguknya teh hasil seduhan Bening, hingga tuntas tak bersisa. Hmm… tidak berubah, masih seenak dulu. Edu membatin.

Rumah besar itu terliaht sudah sangat rapuh. Ukiran kepala kijang yang dulu menghiasi beranda depan sudah tidak ada. Beberapa tiang saka sudah dipenuhi pahatan rayap dan koloninya. Namun dengan kesanggupannya melawan waktu, tak disangkal itu adalah berkat tangan ringan Bening yang lebih terampil dari Badrun sekalipun. Situasi dan kondisi yang mendesak selalu menciptakan pertahanan diri yang menakjubkan.

Di setiap sudut rumah dan halaman, jelas terlihat jejak ketangguhan Bening. Bahkan semua tanaman yang seingatnya sudah ada sejak masa kecilnya dulu, masih utuh dengan perawatan sempurna.

Ah… sudah berapa lama yaa aku pergi meninggalkan kota kecil ini? Tujuh tahun. Yaa, tujuh tahun sejak ayah memaksaku emigrasi ke Kanada, karena seorang perempuan cantik berkulit pucat, pegawai sebuah badan dunia, yang kini dipanggilnya mama.

Baiklah… Cukup untuk hari ini. Awal yang lumayan. Sangat tidak mengecewakan. Apalagi dengan keramahan nenek yang tidak berubah, dan seraut wajah yang masih sama bening seperti tujuh tahun silam. Bening seperti pemiliknya yang bernama, Bening.

Edu mengakhiri perbincangan batinnya dengan senyum kecil. Perlahan ditutupnya pagar kayu bercat putih sebatas betis yang memisahkan halaman rumah dengan jalan utama. Lalu melangkah dengan mantap dengan harapan tinggi yang dibangkitkannya sendiri. Seminggu lagi telepon di ruang prakteknya akan berdering dan memintanya berkunjung kembali.

•♥•♥•

Bingkai jendela itu… Dengan kain horden yang warna coklatnya sudah nyaris peach karena termakan usia, tersingkap sedikit. Memberi celah sempit bagi dua pasang mata yang dalam diamnya mengantar kepergian Edu…

Dua pasang mata milik…

Bening


•♥•♥••♥•♥•

Nuansa Bening [Prologue]


[sumber gambar : pinjam dari Appunti]

Prolog

oh tiada yang hebat dan mempesona • ketika kau lewat di hadapanku biasa saja
waktu perkenalan terjalin sudah • ada yang menarik pancaran diri terus mengganggu
mendengar cerita sehari-hari, yang wajar tapi tetap mengasyikkan
oh tiada kejutan pesona diri • pertama kujabat jemari tanganmu biasa saja
masa perkenalan lewatlah sudah • ada yang menarik bayang-bayangmu tak mau pergi
dirimu nuansa-nuansa ilham, hamparan laut tiada bertepi
kini terasa sungguh • semakin engkau jauh, semakin terasa dekat
akan tumbuh kembangkan • kasih yang kau tanam di dalam hatiku
menatap nuansa-nuansa bening • jelasnya doa bercita


Sahabat pendengar bijak! Itu tadi sebuah tembang lawas dengan satu tema sakti yang tak lekang dimakan usia… Cinta! Dengan kesederhanaan bahasanya yang justru menjadi mercu suar keindahan dan keabadiannya, Nuansa Bening ibarat sebuah oase di tengah sahara tandus dan gersang.

•♥•♥•

 “Waaaawww… akhirnya diputer juga! Asyikkk… !, “Gadis berkepang dua itu melompat senang lalu merangkul sahabatnya. Keduanya lantas tertawa cekikikan bersama.

“Suka banget sih sama lagu itu? Pasti karena judulnya! Ya kan?, “Tanya si sahabat yang berambut ekor kuda.

“Tepat-gulipat, jawabanmu benar akurat! He he he… Penyiarnya pasti penasaran. Tiap kali gue atensi, selalu lagu Nuansa Bening yang gue minta… hi hi hi…”

“Ah, ge-er aja loe!”

“Sst… diem. Lagunya dah kelar tuh. Sekarang kita ganti FM!”

“Apalagi? Aku ngantuk nih ! Klo acara baca-baca puisi itu lagi ogah ah ! Ntar juga loe minta lagunya Keenan lagi ! Bosen ! Dua lagu itu mulu ! Kalo ngga Nuansa Bening, pasti deh Dirimu ! Huh, ngga kesian apa sama telingamu itu ?”

Si gadis berkepang dua tak menggubris omelan sahabatnya. Jempol dan telunjuknya bekerja sama memutar frekuensi yang dicari. 101 Dalmatians FM!

Suara penyiarnya yang berat tapi empuk itu mulai terdengar. Gadis berkepang dua merapatkan telinganya. Kalau tidak, maka kaki sahabatnya itu yang akan menjungkalkan radio kesayangannya.

•♥•♥•

Dari air, kita belajar ketenangan
Dari batu, kita belajar ketegaran
Dari lebah, kita belajar banyak manfaat bagi sesama
Dari kupu-kupu, kita belajar mengubah diri menjadi lebih baik, lebih bermanfaat
Dari padi, kita belajar kerendahan hati
Dari Tuhan, kita belajar tentang… kasih sayang yang sempurna…

Tuhan sangat mampu untuk menciptakan keseragaman bila saja Dia mau. Namun diciptakanNya keanekaragam karena Dia ingin kita belajar saling mengenal… belajar saling mengisi… saling melengkapi… saling menegur dan menasehati… Dari situ kita akan temukan rasa saling membutuhkan, saling mencintai yang berujung pada rasa syukur.

Dari keanekaragaman Tuhan ingin kita tahu bahwa Dia Maha Kaya, Maha Mencipta, Maha Adil dan Maha Mengetahui. Keanekaragaman yang berbeda itu sejatinya indah kalau saja kita mau untuk lebih mencermati.

Andaikan Tuhan tidak menciptakan batu bersifat keras dan semen bersifat lembut ketika bercampur air, maka kita selamanya akan tinggal di dalam goa-goa, bukan di dalam sebuah rumah dengan tembok yang kokoh dan memberikan rasa aman kepada kita. Andaikan Tuhan tidak menciptakan perbedaan karakter, tentu kita akan menjadi manusia-manusia kerdil, karena tak adanya kompetisi sehat yang membangun kecerdasaan pemikiran kita.

Mari, kita sama-sama belajar bersatu dalam perbedaan… Jakarta, 14 September 1994

•♥•♥•

“Sahabat pendengar bijak, itu tadi goresan pena dari… Bondol ?? Halo, Bondol! Pasti rambutmu bondol ya? Ada-ada aja! Apa yang ditulis oleh Bondol semua benar. Dan itu merupakan goresan pena yang saya yakin, berasal dari pemikiran mendalam. Ya ngga, Bon?“

Ow-rite, sahabat pendengar bijak, mengakhiri sua kita tengah malam ini, satu lagu terakhir dari Gank Pegangsaan ‘Dirimu’. Diminta oleh Bondol di singgasana peraduan, begitu katanya, untuk seseorang yang selalu ada di kebeningan hatinya. Wow, Bondol memang selalu romantis ya?”

“Ini dulu dari saya. Selamat malam sahabat pendengar bijak. Selamat beristirahat. Terima kasih atensinya. Jumpa lagi dengan saya besok malam dalam program dan frekuensi yang sama… Bye…”

•♥•♥••♥•♥••♥•♥••♥•♥•

Saturday, December 22, 2012

Inilah yang Kumau Kau Tahu, Bu..


[mi mommy: dokpri]

|..|

sungguh kau tak perlu tahu
…betapa dalam cinta yang sekian lama kuperam
…betapa besar kekaguman yang takkan lekang sekuat apapun itu pengekang …betapa tinggi hormat yang kujunjung walau rendah kudipandang orang
…betapakan terus kuupayakan doa yang sempulur ntukmu seorang

yang kau perlu tahu
…bahwa tak pernah sekalipun kusesali takdir sebagai anakmu
, andaikan kehidupan ini akan berulang, berulang dan berulang lagi, maka pilihanku hanyalah pada rahim kau! sebagai sebab hadirku di sini

dan yang harus kau tahu
…bahwa ada borok sesal yang hingga  hari ini masihku berkubang di dalamnya dan kuyakin itu takkan pernah berakhir, pada setiap
, muka masamku
, kekerasan hatiku
, mudahnya aku tersinggung
, malasnya aku dengan perintahmu
, muaknya aku pada aturanmu
, geramnya aku pada kata ‘jangan’ dan stempel ‘terlarang’ khas dirimu
, sulitnya aku menerima nasehatmu
, lelahnya aku pada segala anjuranmu
, dan ketidakmampuanku ‘menjadikan segalanya’ mudah bagimu

sedang yang harus kau garis bawahi
… adalah betapa tak terkatakan rasa syukurku
, terlahir dari rahimmu
, dan menjadi yang dititipkan
[sungguh, walau memang sempat kusalahkan kau, namun cepat kusadari bahwa situasi dan kondisi yang memaksamu itulah justru yang telah memperkayaku. Kau tak pernah salah dengan keputusan di masa lalu. Itu sesuatu yang kini amat kusyukuri… Itulah hari penentu bagi kelangsungan hidupku. Kalau tak ada hari itu, hari dimana kau paksa-lepaskan aku dari dekap-kasihmu, maka tak akan pernah ada aku yang sekarang ini dengan kemampuan bertahan yang kadang membuatku takjub sendiri, dan mungkin tak akan ada kenangan hebat tentangmu hinggaku terus mengkultuskan dirimu dengan doa disertai pengharapan yang tertuju hanya kepadamu. Jadi, jangan pernah menyesali keputusanmu, hentikanlah rasa bersalah, dan kumohon… bercerailah sekarang juga dengan segala caci makimu pada masa lalu].

lalu yang sebaiknya kau ingat
…adalah aku yang sangat bangga padamu yang tak berpikir dua kali tuk lepas selendang harga diri dan menukarnya dengan celemek sahaya
, bahwa segala hedoni yang tak sudi menghampiri, bukanlah penghalang untukku memperkaya diri
, bahwa akan kulepas jiwa saat itu juga, andai kau tuntut kembali ruh yang telah kau gadaikan ini kepadaku, ingatlah itu, Ibu, sebab kaulah tuhanku di dunia

sedangkan, bila kuperoleh ijin darimu tuk menyampaikan apa yang kumau darimu,
…adalah banjiri hatimu dengan cinta, walau tulang belikat itu mungkin dipasangkan secara paksa
…selubungi bibir cantikmu dengan muhasabah, walau tiang di rumah itu selalunya rapuh seperti pelepah
…taburi la’ilmu dengan maaf yang berlimpah dan ikhlas yang luas, pada kelana yang telah diutusNya ‘ntuk taburkan benih di ladang suburmu itu, sebab tanpanya takkan pernah ada kami, si pancuran kapit sendang sebutan yang kau gadang-gadang

terakhir yang kuharap darimu,
…adalah tanamkan dalam lembah pemikiran dan paksakan bila perlu,
, bahwa peluh yang kau kumpulkan telah ditukar dengan kami,
, airmata yang kau tumpahkan telah berubah wujud menjadi kami,
, derita yang kau sandang sekian lama ini telah dituai pada diri kami,
, harga diri yang kau lempar telah berbunga menjadi kami,
, bahwa tak ada yang sia-sia dari jalur luka memanjang di paruh hidupmu dengan adanya kami…

duhai kau, yang telapak kakimu sanggup kuciumi dan akan kubasuh lima kali sehari dengan airmata suci…
…telah lama kusadari, kupahami, kumaklumi, walau tak mungkin kusampaikan secara terbuka karena mafhum pada sifatmu yang tiada dua… , bahwa hanya dengan puisi tak bermakna ini sajalah kiranya dapat kusampaikan segenap isi hati,
, bahwa hidup adalah tentang pilihan, namun dapat kupastikan tak akan jatuh sebuah pilihan walau kau begitu mulia hingga surga sepantasnya menjadi jejak kakimu, bahkan ketika tiang keropos itu mungkin sepantasnya mubah dijarah rayap
, bahwa tiang rapuh itu setia mendampingi dan terus berupaya tegak berdiri, lihat dan tataplah tanpa henti, bukankah ia tak bergeser sesenti dan tetap ada disisimu sekian lama ini ?
, bahwa banyak kekurangannya sungguh bukan kesalahannya, tak pernah menjadi kemauannya, mustahil juga pilihannya, itu takdir yang tak mampu dia ubah dan harus kau terima dengan hati membenua...
, bahwa mata, hati, cintanya tak pernah tergerus luka dan terus tertuju hanya padamu, tak pernah setitikpun terbersit ‘ntuk berpaling walau sekeras apapun kau kepadanya, sebenci apapun kau terhadapnya, seburuk apapun kau memperlakukan keluarganya, sekeji apapun kutukanmu untuknya, sedingin apapun hati yang kau persembahkan kepadanya, setawar apapun cinta yang semestinya hangat baginya,
, bahwa aku sangat percaya, kau dan tulang belikatmu itu adalah pasangan sempurna, panci dan tutupnya, mur dan bautnya, anak kancing dan lubangnya, sepasang yang berjodoh atas ridha Allah agar kami ada untuk memanggilmu ; ibu, bapak

Itu sajalah,
…yang kumau kau tahu, Bu